14 Maret 2020

Suka Minum Kopi? Kamu Wajib Tahu Varietas Kopi Populer ini!

“Memangnya, kopi punya jenis-jenis berbeda? Bukannya emang itu-itu aja?” Teman saya bertanya setelah insiden dirinya memesan kopi dengan kadar kafein yang gila untuk lambungnya. Saya memberinya dua biji kopi yang berbeda, yaitu kopi arabika dan kopi robusta. Saya telah memperkenalkannya pada perbedaan jenis biji kopi arabika dan kopi robusta, seperti yang saya tulis pada artikel sebelumnya. Teman saya ini dengan penasaran memeriksa kedua biji kopi di tangannya dengan penasaran. Ia menoleh kepada saya sembari bilang,”Kok kayaknya, sama saja, deh.”

Saya menepuk dahi dengan cukup keras. Bisa-bisanya dia ini bilang biji kopi sama saja setelah saya menjelaskan panjang lebar mengenai perbedaanya? Saya tak habis pikir. Lalu kemudian saya ajak dia menuju layar laptop nya guna mencari di internet apa saja varietas kopi populer yang ada di Indonesia dan dunia.

Pada layar laptop, teman saya itu sempat bingung akan sangat banyaknya varietas kopi populer yang dikembangkan dari zaman ke zaman. Sejak pertama kali ditemukan pada abad 1800-an, varietas kopi pada masa kini tentu saja telah menjadi lebih banyakl. Hal itu terjadi saat kopi menjadi barang dagang  berharga bangsa Arab yang menyimpan cita rasa kuat dan khas sehingga mampu mendapatkan hati banyak orang yang meminumnya.

Istilah kopi yang selama ini dikenal oleh khalayak ramai seperti kopi cappucino, moccacino, americano, dan lain-lain adalah istilah cara pembuatan kopi dan penyajian kopi berdasarkan teknik dan bahan campurannya. Espresso adalah cara yang paling lazim digunakan oleh kedai dan gerai kopi di seluruh dunia zaman ini.

Sedangkan yang dimaksud dengan varietas kopi adalah ‘cabang’ dari jenis kopi yang awalnya kopi tersebut di tanam di satu tempat. Kemudian, kopi tersebut dipindahkan, dibudidayakan, dan beradaptasi dengan iklim, suhu, dan kondisi tanah di tempat baru sehingga menciptakan pula cita rasa, bentuk, dan ciri khas baru lainnya. Yaman, tempat di mana kopi arabika dikembangbiakkan dan dikenal sebagai bagian kultur, merupakan single origin dari kopi arabika.

Kopi arabika sangat terkenal di Yaman baik di kalangan rakyat maupun bangsawan pada abad 1800-an. Saking terkenalnya, bangsa eropa sampai ketagihan. Dari negara Inggris hingga Belanda, semuanya berlomba memperdagangkan kopi arabika. Belanda lalu menjadi contoh negara eropa yang mengembangbiakkan kopi arabika di negara jajahannya, yaitu Indonesia.

Varietas Kopi Arabika yang Populer

Kopi Arabika Bourbon

Kopi Arabika Bourbon

Varietas kopi arabika dari Indonesia yang paling umum adalah varietas kopi arabika Bourbon. Harum yang dihasilkan biji kopi varietas arabika Bourbon membuat varietas ini sangat disukai. Warna buahnya pun khas, berwarna merah seperti buah ceri. Di antara sub-varietas Bourbon, ada dua sub-varietas yang merupakan hasil dari mutasi alami, yaitu Yellow Bourbon dan Orange Bourbon. Saat ini Yellow Bourbon mayoritas diproduksi dari Brazil. Sub-varietas lainnya adalah Red Bourbon, Caturra, dan Pacas. Masing-masing merupakan sub-varietas mutasi alami dari Bourbon. Ada pula sub-varietas yang merupakan hibrida ilmiah, yaitu penyilangan yang dilakukan secara ilmiah. Sub-varietas dari varietas kopi arabika Bourbon tersebut contohnya Mundo Novo, yang merupakan hasil persilangan antara Bourbon dan varietas arabika Typica.

Kopi Kartika

Buah Kopi Kartika

Menurut Pusat Litbang Pertanian dan Perkebunan Indonesia, varietas kopi arabika yang saat ini dikenal dan dikembangkan di Indonesia yaitu kopi arabika varietas Kartika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3.  Perbedaan antara varietas kopi arabika Kartika 1 dan Kartika 2 terletak pada bentuk percabangan tanaman. Percabangan varietas kopi arabika Kartika 1 berbentuk agak lentur, memiliki ruas pendek, dan memiliki pembentukan cabang sekunder aktif. Jumlah cabang primer produktif dari varietask kopi arabika Kartika 1 dapat mencapai 30 cabang, 10 dompol/cabang 12 buah per dompol. Daunnya berbentuk oval, ujung meruncing. Helaian daun tebal dan kaku dengan tepi daun daun bergelombang tegas.

Sedangkan varietas kopi arabika Kartika 2 memiliki ruas pendek, dan memiliki pembentukan cabang sekunder aktif. Jumlah cabang primer produktif dapat mencapai 29 cabang, 10 dompol/cabang, 11 buah per dompol. Daunnya berbentuk oval agak memanjang, ujung membulat, ukuran daun tidak seragam. Helaian daun dari varietas kopi arabika Kartika 2 dapat terasa tebal dan kaku di pemukaan tangan. Sedangkan ketika batang tumbuhan varietas kopi arabika Abesinia 3 mulai berbuah, jumlah buah per ruas nya dapat mencapai 3-15 buah, dan 7-12 dompol per cabang. Bentuk buah biasanya berwarna hijau, ujung buah tumpul, dan diskus rata. Buah tumbuhan varietas kopi arabika Abesinia 3 yang telah masak berwarna merah cerah.

Ciri lain yang harus diperhatikan dari varietas kopi arabika adalah ketahanan terhadap penyakit tumbuhan daun kopi. Kopi arabika dikenal sebagai kopi yang rentan terhadap penyakit karat daun pada tahun 1890-an. Ini menjadikan komoditas kopi arabika harus ditangani secara khusus dan hati-hati.

Ketahanan Varietas Kopi Kartika

Menurut Pusat Litbang Pertanian dan Perkebunan Indonesia pula, kopi Arabika memiliki ukuran toleransi atau kerentanan terhadap penyakit tumbuhan kopi yang dipengaruhi oleh ketinggian tempat ditanamnya kopi tersebut. Sebagai contoh, ketahanan varietas kopi arabika Kartika 1 dan Kartika 2 terhadap penyakit karat daun adalah AT (agak tahan) ketika ditanam pada ketinggian >1000m di atas permukaan laut (dpl). Namun varietas kopi arabika Kartikan 1 dan Kartika 2 sangat rentan terhadap parasit Nematoda R. Similis, terutama pada ketinggian kurang dari 900 m dpl. Dibandingkan dengan varietas kopi arabika Kartika 1 dan Kartika 2, varietas kopi arabika Abesinia 3 lebih rentan terhadap penyakit karat daun, namun terhadap parasit Nematoda R. Similis justru agak memiliki toleransi.

Ketahanan varietas kopi arabika terhadapa kondisi lahan marginal pun berbeda-beda. Begitu pula dengan daerah yang cocok untuk varietas arabika untuk bertahan hidup. Perbedaan yang terdapat dari masing-masing varietas kopi arabika ini dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan lokasi di mana varietas kopi arabika akan ditanam. Karena ditanam pada tanah yang tinggi, varietas kopi arabika Karitika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3 punya citarasa kopi yang baik. Bentuk biji kopi nya pun masih berbentuk seperti origin nya. Bulat dan agak lembek. Berat tiap 100 buah biji kopi varietas arabika Kartika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3 mencapai 15 gram jika ditimbang. Hal itu membuat biji kopi varietas arabika Kartika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3 dijual di pasaran tiap 15 gram.

Ada pula varietas kopi arabika yang dapat ditanam pada tanah yang sedikit lebih rendah dari varietas kopi arabika Kartika 1, arabika Kartika 2, dan arabika Abesinia 3. Varietas tersebut adalah varietas arabika S 795 dan USDA 762. Kedua varietas arabika tersebut juga ditanam dan dikembangbiakkan di Indonesia. Ukuran biji varietas kopi arabika S 795 agak lebih kecil dibanding varietas lainnya. Namun berat per 100 biji justru lebih berat dari varietas kopi arabika lainnya, yaitu dengan 16,4 gram per 100 biji. Begitu pula dengan varietas arabika USDA 762.

Kopi Arabika Typica

varietas buah kopi
Jenis Jenis Buah Kopi

Sedangkan di dunia, ada varietas kopi arabika lainnya yang mungkin tidak dapat ditemukan di Indonesia. Misalnya, varietas kopi arabika Typica. Varietas kopi arabika Typica merupakan varietas kopi arabika tertua di dunia, karena berasal pula dari Yaman, tempat di mana kopi arabika sangat terkenal sehingga dunia pun mulai mengenal kopi melalui negri Yaman. Namun lantaran penyakit karat daun, yang tersisa hanyalah sub-varietas nya saja. Di Indonesia, terdapat sub-varietas kopi arabika Typica bernama Typica Jawa atau Sidikalang.

Sub-varietas Sidikalang adalah varietas yang dikenal di tanam di Indonesia pada masa penjajahan. Sub-varietas ini adalah yang disebut-sebut sebagai ‘Java’. dalam kalimat ‘Have a cup of Java’  yang kalaitu populer di kalangan kolonial Inggris dan Belanda. Begitu pula dengan kopi Priangan (Java Preanger). Pada zaman Belanda masih menduduki Indonesia, Priangan adalah lokasi “primadona” penanaman kopi di Indonesia. Karena cita rasa nya yang khas meskipun merupakan varietas dan sub-varietas kopi arabika, kopi Sidikalang dan kopi Priangan menjadi favorit hingga nama pulau jawa disematkan dalam istilah kopi itu sendiri. Sub-varietas lain  dari varietas kopi arabika tersebar pula di berbagai negara seperti Brazil, Meksiko, San Ramo, Kosta Rika, Jamaika, hingga Papua Nugini. Varietas-varietas kopi arabika tersebut bernama San Ramon,  Pluma Hidalgo, Villa Lobos, dan Blue Mountain.

Kopi Geisha

varian kopi geisha
Panama Geisha

Varietas kopi arabika Geisha juga merupakan varietas kopi arabika. Uniknya, Geisha berasal dari nama suatu desa bernama Gesha di Ethiopia, negara tempat di mana kopi arabika pertama kali ditemukan. Namun hari ini kopi Geisha lebih dikenal sebagai kopi Panama karena produksinya paling banyak berasal dari sana. Ciri varietas kopi arabika Geisha atau Panama memiliki ciri-ciri yang hampir mirip dengan varietas kopi Bourbon, yaitu buahnya berwarna merah seperti buah ceri. Akan tetapi, biji varietas arabika Panama mempunyai aroma khas yaitu aroma seperti bunga melati. Selain itu, tingkat keasamannya lebih rendah dibanding varietas kopi arabika lainnya.

Kopi Ethiopia Heirloom

Kopi Ethiopia Heirloom
Ethiopian Coffee

Ethiopia Heirloom juga merupakan varietas kopi arabika yang berasal dari Ethiopia. Varietas yang satu ini memiliki harga lumayan mahal karena merupakan sub-varietas hasil mutasi alami arabika Bourbon yang tumbuh di hutan pedalaman barat daya di negri Ethiopia. Kopi ini tidak lantas tumbuh di perkebunan, melainkan tumbuh secara liar (wildflower). Oleh karena itu, tiap desa di daerah tersebut memiliki gudang atau tempat hasil menyimpan panen kopi varietas arabika Ethiopia Heirloom.

Varietas Kopi Robusta

Kopi arabika tentu adalah kopi populer di dunia. Namun robusta masih menjadi ‘raja komersial’ dari sekian banyak jenis dan varietas kopi di dunia. Robusta tidak hanya dijadikan sebagai bahan kopi, melainkan tidak jarang juga dijadikan produk lain seperti parfum, pengharum ruangan, bahkan bahan produk kecantikan seperti lulur, masker, dan lain-lain.  Berbeda dengan arabika,  kopi robusta hanya punya 2 varietas utama, sisanya adalah sub-varietas. Karena kopi robusta lebih dikenal sebagai biji kopi yang paling imun terhadap penyakit dan parasit tanaman kopi. Kedua varietas utama kopi robusta adalah Erecta dan Nganda.

Kopi Erecta

Sama seperti varietas kopi arabika Ethiopia Heirloom, varietas kopi robusta Erecta juga merupakan varietas yang ditemukan di hutan pedalaman Ethiopia. Kopi robusta dikenal memiliki kadar kafein lebih banyak dari kopi arabika (2,7%, dibanding kopi arabika uang mengandung 1,5% kafein di setiap satu biji kopi) sehingga dapat bertahan hidup di lingkungan dengan cuaca lebih panas dan di dataran rendah.

Robusta lebih dipilih sebagai “representasi kopi” pada iklan komersial karena kandungan pyrazine yang menimbulkan aroma seperti tanah dan kacang-kacangan yang kuat, cangkang biji yang teksturnya lebih kuat dan kasar, hingga rasanya yang lebih pahit. Pada kedai-kedai kopi yang target pasarnya masyarakat menengah, satu shot espresso seringkali mencampur antara kopi arabika dan kopi robusta sebanyak 10-15% guna menekan biaya produksi.

Kopi Robusta Nganda

Varietas kopi robusta Nganda, adalah varietas yang akarnya tersebar. Kopi Erecta atau yang biasa disebut dengan Robusta saja adalah yang paling lumrah digunakan. Varietas lainnya adalah varietas turunan maupun varietas hibrida/persilangan dengan varietas maupun sub-varietas kopi arabika.

Kopi Timor

Timor merupakan hibrida dari varietas kopi robusta yang paling populer. Varietas ini dikawinkan silang pada pulau Timor. Dari hibrida Timor ini, dikembangkan sub-varietas atau turunan lainnya. Contoh paling populer adalah sub-varietas Catimor, persilangan antara varietas kopi arabika Caturra dan varietas hibrida kopi robusta Timor. Biji kopi Catimor besar dan permukaanya kasar seperti robusta, namun tanamannya cenderung kecil. Itu karena hibridasi dari turunan varietas kopi arabika. Ada lagi varietas yang harumnya menyerupai kopi arabika, namun bentuknya kecil seperti varietas kopi robusta Timor, yaitu Sigarar Utang. Varietas ini merupakan persilangan antara Bourbon dan Timor.  Di Indonesia, varietas kopi Sigarar Utang banyak ditanam di Tapanulis, Sumatra Utara, dengan ketinggian 700-1700 dpl.

Kopi Liberika

Arabika, Liberika dan Robusta
Kopi Arabica Liberika Dan Robusto

Kopi Meranti

Buat kopi liberika, Kopi Rangsang Meranti atau yang biasa disebut dengan kopi Meranti adalah varietas kopi liberika yang tak kalah ngetop dengan varietas kopi liberika lainnya. Varietas kopi liberika Meranti memiliki ciri warna kuning kehijauan, namun setelah di-roast, biji akan berubah menjadi warna coklat pekat layaknya biji kopi robusta. Disebabkan oleh baunya yang menyengat seperti nangka, biji kopi liberika banyak disilangkan dengan varietas kopi arabika.

Kopi Kapeng Barako

Pada awal 2010-an hingga saat ini, Vietnam dan Filipina masih menjadi produsen kopi liberika terbesar di dunia, walaupun Indonesia diberi pasokan kopi liberika sebagai pengganti kopi arabika yang rusak akibat penyakit karat daun pada tahun 1890-an. Daerah Batangas dan dan provinsi Cavite yang terletak pada pulau Luzon adalah lokasi terbesar pengembangbiakkan varietas kopi liberika di Filipina. Varietas kopi liberika yang dikembangbiakkan di povinsi Cavite paling banyak adalah varietas kopi liberika Kapeng Barako. Barako berasal dari bahasa Spanyol cafe verraco yang artinya “banteng pejantan” (Barako dalam bahasa filipina juga memiliki arti yang sama dengan Verraco, yaitu banteng pejantan). Ini dikarenakan cita rasa nya yang tidak terlalu asam atau pahit seperti kopi arabika atau robusta, namun tetap memiliki efek kafein yang kuat. Aroma varietas kopi arabika Barako mirip seperti aroma daun tanaman biji adas manis (Pimpinella Anisum).

Varietas Kopi Indonesia

Bagaimana dengan jenis-jenis varietas kopi lainnya di dunia? Jangankan di dunia, di Indonesia sendiri begitu banyak varietas kopi yang menghasilkan cia rasa khas dari tiap daerah di mana varietas kopi tersebut di tanam. Varietas kopi arabika Java Ijen Raung, misalnya. Varietas kopi arabika yang dibilang “elegan” ini berhasil menghasilkan 858,91 ton biji kopi untuk di ekspor pada tahun 2016. Biji kopi Java Ijen Raung memiliki aroma bunga hutan, tetapi rasanya asam seperti asam jawa.

Adapun kopi luwak, varietas kopi yang disebut-sebut sebagai varietas yang cukup langka dan mahal, diproduksi di Indonesia karena hewan luwak umumnya berada di Indonesia, terutama Sumatra. Kopi luwak dapat menjadi berwarna putih karena kopi tersebut berasal dari fermentasi digestif hewan luwak. Cara memproduksinya adalah membiarkan luwak menelan buah tanaman kopi, kemudian biji kopi yang berada pada feses luwak dikumpulkan, dibersihkan, dan baru dijual ke pasaran. Biji kopi yang dimakan hewan luwak bisa apa saja, arabika, robusta, hingga liberika. Itulah mengapa varietas kopi luwak menjadi varietas kopi yang mahal.

Dari sekian banyak ciri khas dari varietas dan sub-varietask kopi arabika, kopi liberika, dan kopi robusta, yang menjadikan secangkir kopi berbeda dengan kopi lainnya adalah cita rasa. Rasa kopi arabika, baik yang ditanam di tanah asalnya yaitu Yaman dan Ethiopia, maupun yang ditanam di Indonesia, masih agak sama yaitu asam. Kopi arabika lebih ‘lembut’ ketimbang robusta karena cita rasa kopi arabika menggambarkan kadar kafein di dalamnya. Kopi robusta lebih ‘kuat’ dan lebih mumpuni dalam meningkatkan energi, dan lebih pahit dalam soal cita rasa. Oleh karena itu, kopi robusta cocok dijadikan campuran espresso dan dicampur dengan berbagai tambahan campuran seperti gula, susu, krim, dan lain-lain.[]

Katherine Hall
author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram