6 Maret 2020

Sejarah Kopi Dunia dan Peradaban Manusia

“Kok lu minum kopi terus sih, bro?” Pertanyaan itu pasti kamu temui bila kamu adalah teman yang sering ngajak ‘nongki dan ngopi’. Memang kopi merupakan minuman yang digemari untuk ngumpul-ngumpul, ngobrol, dan menjamu tamu. Semua itu ternyata berawal dari sejarah berabad-abad silam.

Ketika teman menolak untuk diajak ‘nongki dan ngopi’, jangan sedih dulu. Mungkin mereka belum tahu sejarah kopi dunia yang menyimpan sejuta fakta tentang tradisi minum kopi. Sejarah menyebutkan kalau kopi ditemukan pada 1000 SM. Kopi kemudian merupakan salah satu hidangan paling digemari oleh raja-raja Islam, tentara kolonial Eropa, hingga berlanjut ke zaman berikutnya. Budidaya kopi juga tidak berhenti hingga selesai Perang Dunia dua.

Lalu bagaimana dengan jenis-jenis kopi? Mengapa kopi yang tadinya dikenal oleh sejarah dunia sebagai sebuah rempah, kini dikembangkan menjadi beberapa variasi? Bagaimana dengan pembuatan kopi pada masa lampau sehingga aroma dan rasa kopi terjaga?

Asal Mula Minuman Kopi

Semua itu berawal dari daerah Afrika Timur. Catatan sejarah kopi menyebutkan kalau suku Galla dari Afrika Timur adalah suku pertama yang mengenal kopi. Kopi pertama kali di tanam kota Kaffa, yang terletak di Shoa, sebuah daerah di Selatan dari Barat Daya Abissynia, Afrika.   Menurut sejarawan William H. Ukers, kata ‘cofee’ sendiri berasal dari nama kota Kaffa. Namun kemudian pada Simposium Etimologi Kata Kopi (Symposium of The Etymology of The Word Coffee) yang digelar 1909, akhirnya para sejarawan sepakat bahwa ‘coffee’ diambil dari kosa kata bahasa Arab ‘qahwa’.

“Lah kok, katanya kopi berasal dari Afrika Timur.  Kok para sejarawan malah setuju kata kopi diambil dari bahasa Arab?” mungkin Kamu bertanya-tanya demikian. Namun sejarah kopi dunia memang membuktikan kalau bangsa Arab adalah pilar utama dalam penyebaran, distribusi, dan siklus ekspor kopi ke seluruh dunia. Mari simak rangkuman sejarah kopi di dunia guna menemukan alasan mengapa tempat kopi berasal adalah dari negara-negara Arab.

Kopi justru mulai menyebar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia, ketika bangsa Arab ikut mengenal kopi dan menjadikan kopi sebagai komoditas dagang. Jika Kamu membaca buku All About Coffee yang ditulis oleh sejarawan William H. Ukers, Kamu akan menemukan pernyataan Ukers bahwa sejarah kopi di dunia dimulai oleh bangsa Arab walau sejatinya telah ditanam terlebih dahulu di Afrika.

kaldi-pengembala-kambing-penemu-kopi-pertama

Bahkan sebelum dikenal di Arab, distribusi kopi singgah terlebih dulu di Ethiopia. Legenda Tarian Kambing adalah legenda tentang kopi paling terkenal di Ethiopia. Dalam legenda ini diceritakan kalau seorang penggembala kambing bernama Kaldi melihat kambing nya lincah menari-nari setelah makan dari sebuah ‘beri merah’.  Kaldi kemudian mencoba sendiri ‘beri’ tersebut dan memberinya pada seorang biarawan. Biarawan itu juga seketika merasa berenergi setelah mencicipi beri merah itu. Kemudian Kaldi pun memasak buah itu dengan cara memanggang dan menyeduhnya.

Kopi dan raja-raja Yaman terdahulu

Ketika cerita legenda itu merajalela, seorang sufi Yaman bernama Al-Dhabani mengenal biji kopi ketika ia berkunjung ke Ethiopia. Sebelumnya, penduduk Yaman telah meminum daun teh qat yang efeknya sama seperti kopi, yaitu menambah energi dan menjauhkan dari kantuk. Namun daun teh qat terkenal sangat langka dan mahal. Untuk itu, Al-Dhabani membawa kopi ke kampung halamannya. Kopi semakin terkenal tatkala sufi lain yang mempunyai pengaruh kuat pada saat itu, yang bernama Ali bin Umar As-Shadhili, mengimbau masyarakat dan para sufi untuk meminum kopi. Melihat peluang perdagangan, pedagang Yaman pun membawa dan memproduksi kopi ke daerah Mocha, Yaman (bukan Mecca atau kota Mekah yang biasa dikenal sebagai lokasi Ka’bah).

Kopi kemudian disebut-sebut sebagai pengganti daun qat bagi penduduk Yaman. Ilmuwan islam terkemuka bernama Ibnu Sina meneliti kopi dari segi ilmu kedokteran dan kesehatan. Hasil riset Ibnu Sina semakin memperkuat bahwa betul adanya kopi membawa efek energi tambahan bagi manusia. Saat itu pula ajaran Islam sedang menyebar melalui pedagang-pedagang islam. Mereka berdagang kopi sambil turut membawa dakwah Islam. Efeknya? Kopi jadi semakin terkenal di seluruh penjuru jazirah arab.

Di zaman kesultanan Utsmaniyah, tepatnya di Konstatinopel (yang kemudian disebut Istanbul), kedai kopi pertama di dunia dibuka pada tahun 1475. Kamu sebagai pecinta kopi pasti tahu kedai kopi pertama di dunia. Kalau Kamu mengaku sebagai pecinta kopi, jangan sampai tidak tahu kedai yang membuka jalan bagi sejarah kopi dan sejarah berbagai kedai kopi yang dapat kita temui hari ini.

Setelah Konstantinopel jatuh ke tangan kekuasaan Turki Utsmaniyah pada 1435, perlahan peradaban Romawi bergeser dengan peradaban dan kultur bangsa Arab. Kopi yang merupakan komoditas khas bangsa Arab pada kala itu mulai tercium semerbaknya di sudut-sudut kota Istanbul. Semua itu dimulai dari sebuah kedai kopi.

Kedai kopi tersebut dikenal dengan nama kedai KivaHan. Kedai KivaHan tersebut turun dari generasi ke generasi, dan kini masih ada. Pada masa Konstatinopel masih berdiri, kopi menjadi suatu santapan penting yang mengakar pada tradisi. Di kerajaan Turki kuno tersebut kopi sangat kental bukan hanya dengan krimer, tapi juga dengan identitas Turki Utsmaniyah sebagai kerajaan Islam adidaya. Sampai-sampai, undang-undang menyangkut kopi seperti “seorang wanita berhak mengugat cerai suaminya bila sang suami tidak dapat menyajikan secangkir kopi untuk sang istri setiap hari” turut disahkan. Turki menjadi negara kedua berpengaruh setelah Yaman dalam sejarah penyebaran kopi di seluruh dunia.

Penyebaran Kopi pada Zaman Kolonial Eropa

Raja-raja Turki kemudian secara turun-temurun menggunakan kopi sebagai suguhan untuk tamu sebagai pengganti wine. Sebab, wine atau arak hukumnya haram dalam islam. Pedagang-pedagang internasional terarik dengan minuman hitam pekat yang tidak membuat mabuk seperti minuman alkohol, namun  malah membuat mereka berenergi saat membahas kepentingan negara.  Misalnya, Raja Perancis Louis XIV mengenal kopi tatkala duta besar kerajaan Turki membawanya ke Paris.

Di situlah kemudian sejarah kopi dibawa mencapai Eropa. Awal 1600-an, bangsa Eropa berbondong-bondong menjadi negara eksportir rempah dunia. Meskipun awalnya bangsa Eropa menolak karena imam besar agama kristen masa itu, Paus Clement VIII, mengeluarkan fatwa kalau kopi adalah tindak aliran sesat. Namun kemudian fatwa tersebut dicabut. Kopi pun di ekspor dari Turki. Kedai-kedai kopi mulai dibuka di berbagai wilayah kristen seperti Venice di Italia, Oxford, dan London.

Melalui ambisi menjadi negara eksportir rempah, bangsa Eropa mulai meneliti dan mengembangkan pengetahuan akan biji kopi agar mereka tidak perlu lagi impor dari Turki. Setelah Raja Charles II menutup seluruh kedai kopi di kota London, warganegara Belkamu baru mengenal tea house yang menyajikan minuman teh dan kopi. Oleh karena itu, Belkamu memanfaatkan krisis kepercayaan orang terhadap kopi sampai akhir tahun 1777 M. Belkamu memulai penelitian tanaman kopi dan berusaha mengembangkannya di tanah jajahannya, Java (Jawa). Dari sinilah kita mengenal jenis kopi baru bernama kopi Java dan kopi Priangan. Sebab, Belkamu menanam kopi pertama kali di daerah Priangan, Ciamis. Hal ini lah yang akan menjadi awal mula sejarah kopi di Indonesia yang diperkenalkan melalui kolonialisme Belkamu.

Di rentang waktu yang bersamaan, jenis-jenis kopi lain turut diperkenalkan. Misalnya, salah satu bangsawan  Portugis bernama Gabriel du Clieu menanam biji kopi dari Perancis ke negara-pulau Martinik. Maka, dibuatlah jenis kopi Martinik. Di Perancis pula, prototip ekspreso dibuat padat tahun 1822. Sedangkan kopi Arabica ‘dikuasai’ oleh serikat dagang Belkamu (atau V.O.C) dan berkembang pesat di daerah-daerah asia seperti Indonesia, Sri Lanka, dan India. Namun kopi Arabica tidak setangguh kopi Robusta tatkala diserang penyakit tanaman dan hama. Oleh karena itu, Belkamu mengganti kopi Arabica dengan Liberica dan Robusta. Itulah mengapa Indonesia punya berbagai macam jenis biji kopi untuk di produksi. Indonesia telah mengenal bermacam-macam kopi seperti Mocha, Arabica, Liberica, dan Robusta.

Sedangkan di Amerika, kopi kemasan berhasil ditemukan pada 1873 dan Amerika mulai memproduksi kopi kemasan agar kegiatan menyeduh kopi lebih mudah dilakukan. Pembuatan kopi instan menjadikan kedai kopi booming di Amerika, terutama pada 1920-an. Jerman juga memperkenalkan kopi Dekafa. Kopi Dekafa adalah jenis kopi berkadar kafein paling rendah. Guna mempertahankan harga kopi sekaligus memenuhi permintaan rakyat Amerika atas kopi, Amerika membentuk Asosiasi Kopi Nasional pada 1911 dan Federasi Kopi Kolumbia pada 1928.

Bicara tentang kopi instan, Nestle saat ini menjadi produsen kopi instan terbesar di dunia. Sebab, Brazil menemukan kopi instan Caribbean dan Brazil setelah memusnahkan 78 kantong biji kopi untuk menjaga harga komoditas. Meskipun awalnya perdagangan kopi dikuasai oleh Belkamu, Brazil mampu menyeimbangi dengan adanya jenis kopi Caribbean.

Kopi pada zaman Perang Dunia II

Pada 1939-1945 selama perang dunia 2, tentara-tentara Amerika menyelundupkan kopi ke kapal-kapal perang untuk dikonsumsi prajurit. Hal ini menambah popularitas kopi di hati rakyat Amerika.

Walaupun begitu, produksi kopi waktu perang dunia 2 sangat dibatasi oleh Inggris. Sebelumnya, Jerman percaya kalau kopi adalah ‘pendobrak tradisi’ yang mana mengalahkan bir sebagai minuman khas negara Jerman. Inggris lalu percaya bahwa kopi juga ‘menentang’ tradisi minum bir dan perlahan mengganti kedai-kedai kopi dengan kedai bir (tavern) selama tahun 1790. Hingga akhir perang dunia 2 berakhir, Inggris masih membatasi jumlah distribusi kopi.  

Kemudian, terjadilah ‘keajaiban’ bagi para pecinta kopi di Inggris. Inggris kembali membuka pintu bagi kopi untuk mencetak sejarahnya di Inggris setelah mesin Capucino diproduksi massal pada 1946. Kopi jenis Capucino diperkenalkan dengan mencampur cairan kopi dengan susu kukus (steamed milk). Gaggia, pabrik produsen mesin Capucino pertama, menyebutkan kalau warna kopi Capucino terinspirasi dari jubah pendeta Capucin. Oleh karena itu, kopi itu kini disebut kopi Capucino. Pabrik Gaggia juga memproduksi mesin kopi Espresso yang telah dikembangkan oleh Fernando Illy pada 1904. Produksi kedua mesin itu masuk ke Inggris tahun 1948-1952. Akhirnya kedai-kedai kopi dibuka kembali di kota London pada Juli 1952. Tahun 1960 merupakan tahun di mana jumlah kedai kopi di seluruh Inggris raya mencapai 2000 kedai kopi. Tidak hanya itu, Bar dengan menu utama kopi Espresso pertama dibangun di wilayah Soho, Inggris, pada 1953.

Namun memang dari sekian banyak negara, Amerika adalah negara dengan penggemar kopi terbanyak. Kopi di Amerika begitu diminati sampai-sampai Asosiasi Kopi Nasional Amerika menyebutkan kalau tiap warga Amerika minum 2-3 gelas kopi per hari pada tahun 1962.

Amerika juga menjadi negara tempat lahirnya Starbucks, kedai kopi paling bergengsi masa kini. Perjalanan Starbucks sebagai kedai kopi berawal dari Baldwin dan Brown, dua sekawan yang berinisiatif melakukan eksperimen untuk menciptakan variasi kopi baru. Starbucks dibuka pertama kali di Seattle pada awal 1980.

“Tradisi” mencampur resep ala Starbucks dimulai dari seorang karyawan yang memutuskan untuk menggunakan metode menu resep tertulis guna memudahkan konsumen meracik kopi buatan sendiri. Karyawan tersebut bernama Howard Schultz. Nasib Starbucks berubah pada 1985. Setelah idenya ditolah oleh dua sekawan penemu Starbuck, Schultz pun meninggalkan Starbuck dan mendidikan franchise kedai kopinya sendiri, II Giornale.  Kesuksesan II Giornale membuat Schultz kaya raya dan akhirnya membeli Starbucks pada Maret 1987. Schultz mengkombinasikan seluruh metodenya pada Starbucks ‘baru’. Berkat metodenya itu, Starbucks tercatat memiliki 20.000 cabang di seluruh dunia pada 1998.

Kopi sebagai Pembangun Semangat

Aroma yang menimbulkan semangat masih dapat tercium dari seduhan kopi sampai hari ini. Semangat para bangsa Arab, raja-raja Turki, hingga Schultz, dalam memperkenalkan kopi, kini dapat Kamu cicipi melalui seruput di ‘nongki dan ngopi malam minggu kamu. Sejarah kopi dunia telah membuktikan bahwa kopi merupakan sajian penambah semangat yang patut digemari.[]

Katherine Hall
author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram