6 Maret 2020

Kopi, Indie, dan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa Lalu

Meminum kopi berarti mengisi kembali tenaga, mengumpulkan insiprasi, dan melanjutkan pekerjaan. Kata kopi sekarang seringkali dikaitkan dengan tren atau kultur Indie. Padahal, dalam sejarah bangsa Indonesia, kopi telah menjadi amunisi produktifitas bagi seluruh kalangan.

Ingat musisi Banda Neira? Kamu pasti heran mengapa proyek "iseng-iseng" tersebut yang dirintis oleh talenta Rara Sekar dan Ananda Badudu malah berhasil dikenal sebagai musisi indie dengan masterpiece seperti Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. 

Sebenarnya, ada kunci-kunci tersendiri untuk membuat lagu trending dan memukau seperti Banda Neira. Tidak hanya modal talenta, mental yang kuat pun jadi salah satu tahap penting yang harus dilalui oleh musisi indie supaya lagu-lagunya ngga kalah dengan lagu dari label rekaman. Seorang musisi bahkan sampai rela begadang sambil menenggak bergelas-gelas shot ekspresso demi inspirasi yang kuat. Mengapa kopi?

Pertama-tama, mari kita lihat dulu sejarah kopi di Indonesia. Sejarah kopi di Indonesia akan menyingkap bagaimana kopi selalu identik dengan kerja keras. Jika kita putar ulang waktu, ternyata bukan hanya ‘anak’ indie yang mengkonsumsi kopi sebagai peningkat produktifitas. Sejarah kopi di Indonesia memang pahit dan tertulis di atas lembaran hitam kolonialisme. Namun hal itu dapat menjadi penjelasan mengapa kopi selalu dikaitkan dengan kerja keras.

Pemerintah hingga jajaran kolonial Belanda pun 'kecanduan' kopi. Hasil eksploitasi Belanda yang di tanam di Indonesia menghasilkan untung besar. Permintaan akan biji kopi dan rempah lainnya sangat banyak, terutama dari negara-negara Eropa. Mengapa itu bisa terjadi? Mengapa kopi sangat digemari, bahkan dari jaman penjajahan?

Sejarah Kopi Di Indonesia

Jawabannya lagi-lagi ada pada ketika anda memutar kembali jarum jam ke masa lampau dan menelusuri jejak sejarah kopi di Indonesia. Kala itu tanah-tanah di Eropa bukanlah tanah yang tepat untuk menanam rempah. Para pelaut dan penjelajah benua berlomba-lomba mencari tanah baru agar bangsa Eropa jaya dalam bidang pasar rempah. Ketika kolonial eropa pertama kali muncul di Indonesia.

Kopi sudah dikenal dari jaman para intelektual Islam mulai berjaya. Kopi dahulu biasa disebut dengan kata dari bahasa Arab qahwa. Raja-raja Yaman sangat menikmati kopi sebagai sajian waktu luang, sampai sebagai sajian kepada para tamu penting kerajaan. Kopi dikenal secara global karena tamu-tamu kerjaan Yaman pasti disuguhi kopi. Kopi kemudian dibawa dari daerah Yaman, Turki, hingga pada akhirnya bangsa Eropa mengenal apa itu kopi. Penyebaran kopi di dunia pun berkat perdagangan internasional Turki dan Yaman. Serikat dagang Eropa yang dibuat oleh Belanda bernama Vereenigde Ooostindische Compagnie atau V.O.C mulai berdiri tahun 1616 dan membeli kopi stek dari pedagang Yaman. V.O.C dan pemasok kopi Yaman bertransaksi di pelabuhan Mokha.

Budidaya Kultur Kopi Pertama Di Indonesia

Kemudian sejarah kopi di Indonesia dimulai saat delegasi V.O.C berkebangsaan Belanda membawa pohon kopi dari Malabar, India, mengarungi lautan hingga sampai di pulau Jawa. Sejarah tersebut terjadi pada tahun 1696. Mereka kemudian menanam pohon tersebut di sebuah area tanah partikelir dekat timur Jatinegara, Batavia. Kebun tersebut di daerah Kedaung, yang kemudian dikenal sebagai wilayah bernama Pondok Kopi.

Gubernur Jenderal kolonial Belanda

Penanaman tersebut dimulai dari kisah Gubernur Jenderal kolonial Belanda bernama Joan Van Hoorn menerima kiriman kopi dari mertuanya yang berada di Malabar, India. Gubernur Jenderal Van Hoorn pun segera bergegas memulai proyek penanaman kopi di Batavia dan Cirebon. Proyek itu membawa hasil memuaskan. Oleh karena itu, V.O.C dan Belanda berharap dapat membudidayakan kopi di Indonesia. Kopi menjadi komoditas yang diprioritaskan Belanda karena Belanda gencar memperoleh devisa negara. Hutang Belanda pada Perang Dunia I harus segera di bayar, Namun harapan Belanda untuk membudidayakan kopi di Kedaung harus kandas karena perkebunan tersebut rusak akibat gempa dan banjir.

Belanda tidak berhenti begitu saja. Mereka tetap ingin kopi tumbuh di tanah subur Indonesia. Jika Belanda menyerah pada saat itu, maka sejarah kopi di Indonesia tidak akan berlanjut dan kita tidak akan pernah menikmati lezatnya kopi yang kini kita sering minum untuk menghangatkan tubuh pada saat musim hujan. Walaupun sejarah kopi di Indonesia kental akan kolonialisme, namun sejarah tetaplah sejarah. Musisi indie pun tidak akan mungkin menenggak kopi sebagai asupan produktifitas jika sejarah kopi di Indonesia tidak berlanjut tatkala Belanda baru saja akan memulainya.

Belanda mulai lagi menanam pohon kopi 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1699. Belanda mengirim stek kopi lagi  dari Malabar. Komandan Adrian Van Ommen diperintah oleh walikota Amsterdam untuk membuka lahan kopi kembali di Kedaung. Kali ini, percobaan Belanda berhasil. Pohon kopi menghasilkan biji-biji kopi berkualitas. Bangsa Indonesia menderita karena Belanda berhasil menemukan cara baru kembali supaya Belanda meraup keuntungan untuk membayar hutang. Di samping itu, di dalam badan organisasi V.O.C, muncul berbagai ketamakan seperti korupsi sehingga mengakibatkan masalah finansial baru bagi Belanda.

Belanda lantas mengirim beberapa sampel kopi ke Kebun Raya Amsterdam pada 1706 untuk diteliti. Berkat sukses nya penelitian di Kebun Raya Amsterdam, Belanda menemukan cara agar kopi dapat panen subur di Indonesia. Budidaya kopi besar-besaran dimulai dari dataran tinggi Priangan, yaitu daerah sebelah barat Cianjur hingga sebelah timur Ciamis. Area budidaya kopi diperluas hingga mencapai Bali, Sumatera, Timor, dan area-area lainnya di Indonesia.

Jenis kopi Arabika yang diimpor dari kerajaan-kerajaan perdagangan negara Arab seperti Yaman dan Turki adalah jenis kopi yang ditanam sebelumnya. Belanda menemukan kalau ternyata kopi Arabika tidak terlalu imun terhadap penyakit dan hama. Oleh karena itu, Belanda kemudian memilih jenis kopi liberika untuk ditanam selanjutnya.

Mulai tahun 1711, kopi diekspor dari Jawa ke negara-negara Eropa. Permintaan kopi makin tinggi, dan itu berarti produksi kopi harus tinggi pula. Rakyat Indonesia makin susah karena tidak lagi di bawah pengawasan V.O.C, tetapi langsung diawasi oleh kolonial Belanda. V.O.C dibubarkan pada tahun 1799 karena sudah terlalu banyak hutang yang ditinggalkan oleh serikat dagang tersebut.

The Legend of Java Preanger

kopi-malabar

Pada 1752, negara-negara Eropa mengenal Indonesia sebagai lokasi utama penghasil kopi bagi Belanda. Nama pulau Jawa begitu melekat dengan identitas kopi, sampai-sampai para bangsawan Eropa sering mengganti kata coffee dengan java. “Have a cup of Java” adalah istilah populer di Eropa tatkala mereka ingin menikmati secangkir kopi produksi tanah Priangan. Padahal, mereka tidak tahu kalau bangsa Indonesia lah yang memproduksi kopi tersebut, bukan bangsa Belanda sendiri. Oleh sebab itu, kini dikenal jenis kopi lokal khas Indonesia bernama Kopi Priangan atau Java Preanger.

Kembali ke sejarah kopi di Indonesia. Tahun 1802 pemerintah kolonial Belanda menetapkan peraturan bahwa setiap keluarga, terutama di daerah Cirebon, wajib menanam sebanyak 500 pohon kopi.  Produksi kopi meningkat tajam pada tahun 1810. Kerja paksa untuk menanam rempah-rempah termasuk biji kopi, atau yang disebut Tanam Paksa (Cultuurstelsel), pun menjadi metode baru bagi Belanda untuk memeras habis-habisan tenaga kerja di Indonesia dengan bayaran sekecil mungkin.

Pada tahun 1878, lagi-lagi Belanda menemui kegagalan produksi kopi. hampir semua perkebunan kopi di dataran rendah di Indonesia rusak akibat penyakit Hemileia Vastatrix (HV) atau yang biasa disebut dengan penyakit karat daun. Penyakit tanaman tersebut membuat produksi kopi harus berhenti lantara produk yang dihasilkan tidak layak dikonsumsi. Selain itu, Belanda mulai mendapat kritik dunia akibat ekspolitasi tenaga kerja yang tidak manusiawi.

Sampai pada tahun 1907, Belanda menemui lagi kegagalan produksi kopi. Sama persis dengan apa yang terjadi pada budidaya kopi Arabika, kopi liberika rusak pula akibat penyakit yang sama. Penyakit karat daun rupanya menjadi masalah besar dan berlanjut bagi Belanda. Produksi kopi liberika akhirnya dihentikan. Kopi robusta (Coffea canephora) lalu ditanam sebagai ganti kopi liberika. Di titik ini, bangsa Indonesia telah mengenal 3 jenis kopi yang paling digemari sepanjang sejarah.

Belanda kemudian memperluas budidaya kopi robusta ke dataran tinggi di Indonesia. Usaha itu berhasil, meski yang paling bertahan tetap adalah kebun-kebun kopi yang berasal dari dataran rendah. Kopi robusta mendapat kesempatan untuk di distribusi ke eropa dalam beberapa waktu sebelum akhirnya Perang Dunia II berakhir tatkala sekutu memenangkan pertarungan atas Jepang yang ditandai dengan jatuhnya bom di kota Hiroshima pada tahun 1945.

Saat itu, sejarah penjajahan di Indonesia sedang berhenti. Indonesia sedang memasuki status quo setelah Jepang datang ke Indonesia dan Belanda menduduki Indonesia selama berabad-abad. Kopi telah banyak menemani perjalanan perjuangan bangsa Indonesia. Jika anda membaca sejarah kopi di Indonesia di berbagai sumber, buku, dan dokumentasi, anda akan selalu menemukan aroma kerja keras bangsa Indonesia. Pada masa ini, jenis kopi paling mahal berasal dari Indonesia, dan Indonesia adalah eksportir utamanya. Jenis kopi apakah itu?

Kopi dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Kembali lagi pada zaman tatkala Indonesia masih berjuang untuk merdeka. Soekarno, bapak kemerdekaan Indonesia, tengah merumuskan teks proklamasi bersama ‘golongan tua’ dan ‘golongan muda’ pada pertengahan tahun 1945, tepatnya pada 16 Agustus 1945. Setelah kekalahan Jepang terhadap sekutu Amerika, Jepang seperti ‘menghilang’ dari tanah jajahannya. Hal itu dimanfaatkan oleh bangsa Indoensia untuk memerdekakan diri. Setelah peristiwa rengasdengklok, para tokoh dari ‘golongan muda’ mendesak Ir. Soekarno untuk segera mendeklarasi kemerdekaan Indonesia.

Namun setiap pagi sebelum bekerja sebagai pemimpin bangsa yang ingin merdeka, Ir. Soekarno menenggak segelas kopi terlebih dahulu., menurut salah satu ajundan Bung Karno bernama Bambang Widjanarko. Dalam buku karangan Bambang Widjanarko sendiri, Sewindu Dekat Bung Karno, Ir. Soekarno gemar mengkonsumsi kopi jika suatu acara diadakan pada pagi hari, dan air jeruk jika diadakan pada malam hari.  Bung Karno juga bukan sosok sejarah Indonesia yang doyan mabuk dengan alkohol. Alkohol selalu beliau ganti dengan air jeruk.

Jenis kopi kesukaan presiden pertama Republik Indonesia tersebut adalah kopi tubruk. Hal itu diketahui dari istri kedua Bung Karno, Inggit Ganarsih. Inggit selalu menyediakan Bung Karno segelas kopi tubruk hitam pekat lengkap dengan sesendok gula. Rumah Inggit di Ciateul, Bandung menjadi tempat bagi para politisi dan para pemuda nasionalis untuk bekerja keras menuangkan idealisme, pemikiran, dan mimpi akan Indonesia yang merdeka bersama Bung Karno.

Kebiasaan meminum kopi itu terbawa hingga akhirnya Indonesia merdeka. Setelah mengumumkan pernyataan proklamasi pada 17 Agustus 1945, Bung Karno tetap setia dengan kebiasaanya meminum kopi tubruk dan makan roti dengan mentega. Bung Karno pun menghapus jarak besar antara presiden dan jajaran mentri pada kala itu. Dengan mengadakan makan bersama di istana negara, Bung Karno berhasil menjadikan kopi sebagai sajian untuk mempererat tali silaturahmi. Persis seperti yang dilakukan oleh raja-raja Yaman terhadap para tamu mereka.

Kopi tubruk sendiri dibuat menggunakan metode tumbuk (tubruk) dan diseduh bersama ampasnya. Kopi tubruk dikenal pula pada masa kolonial, pada waktu kopi disebut dengan istilah “Java”. Baik kopi tubruk, kopi priangan, dan kopi ekselsa, semuanya dijadikan komoditas utama oleh Belanad, disamping ketiga jenis kopi paling dikenal pada masa kopi itu. Ketiga jenis kopi yang dimaksud adalah kopi arabika, kopi liberika, dan kopi robusta.

Kebun kopi yang semula milik Belanda, terutama pada dataran tinggi Priangan, kemudian diakuisisi oleh Bung Karno setelah Indonesia merdeka (atau yang disebut dengan “nasionalisasi” bekas kolonial Belanda). Kini perkebunan kopi jadi sepenuhnya milik Bangsa Indonesia, dari mengendalikan seluruh produksi hingga ekspor. Salah satu perusahaan produksi kopi swasta terbesar di Indonesia, Coffindo, memiliki lahan seluas 3.412 Hektar. Berkat perjuangan para proklamator, bangsa Indonesia kini tidak lagi memproduksi kopi sebagai budak kolonial, tetapi sebagai produsen.

Kopi terus menemani sejarah bangsa Indonesia. Pada novel yang diangkat dari sejarah berjudul Revolusi dari Secangkir Kopi karangan Didik Fotunadi, dibuktikan bahwa ketika bangsa Indonesia melalui lembaran sejarah yang paling kelam dan paling sulit sekalipun, kopi menjadi saksi bisu dari perjalanan Indonesia. Novel tersebut bercerita tentang pengalaman Didik sebagai mahasiswa pada masa revolusi, dan bagaimana puncak revolusi yang diwarnai dengan aksi protes pada tahun 1998 mengantarkan pemikiran para mahasiswa untuk memperbarui kembali hakikat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Semua itu tetap ditemani secangkir kopi, tatkala Didik dan teman-teman mahasiswa nya membicarakan nasib bangsa yang saat itu tengah goyah.

Jenis-jenis kopi lain seperti kopi aceh, kopi gayo, dan kopi-kopi produksi lokal lain turut pula menghias kisah sejarah Indonesia. Penggemar kopi fanatik tentu tidak perlu lagi khawatir tentang cibiran dari orang-orang yang bukan pecinta kopi. Perjuangan dan kerja keras ada dalam setiap tetes kopi di dalam cangkir Anda. Coba bayangkan ketika anda menghadapi pertanyaan,”Kok suka banget kopi?” Anda tinggal menjawab,”Karena aku butuh kopi untuk kerja keras!” []

Katherine Hall
author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram