Suka Minum Kopi? Kamu Wajib Tahu Varietas Kopi Populer ini!

“Memangnya, kopi punya jenis-jenis berbeda? Bukannya emang itu-itu aja?” Teman saya bertanya setelah insiden dirinya memesan kopi dengan kadar kafein yang gila untuk lambungnya. Saya memberinya dua biji kopi yang berbeda, yaitu kopi arabika dan kopi robusta. Saya telah memperkenalkannya pada perbedaan jenis biji kopi arabika dan kopi robusta, seperti yang saya tulis pada artikel sebelumnya. Teman saya ini dengan penasaran memeriksa kedua biji kopi di tangannya dengan penasaran. Ia menoleh kepada saya sembari bilang,”Kok kayaknya, sama saja, deh.”

Saya menepuk dahi dengan cukup keras. Bisa-bisanya dia ini bilang biji kopi sama saja setelah saya menjelaskan panjang lebar mengenai perbedaanya? Saya tak habis pikir. Lalu kemudian saya ajak dia menuju layar laptop nya guna mencari di internet apa saja varietas kopi populer yang ada di Indonesia dan dunia.

Pada layar laptop, teman saya itu sempat bingung akan sangat banyaknya varietas kopi populer yang dikembangkan dari zaman ke zaman. Sejak pertama kali ditemukan pada abad 1800-an, varietas kopi pada masa kini tentu saja telah menjadi lebih banyakl. Hal itu terjadi saat kopi menjadi barang dagang  berharga bangsa Arab yang menyimpan cita rasa kuat dan khas sehingga mampu mendapatkan hati banyak orang yang meminumnya.

Istilah kopi yang selama ini dikenal oleh khalayak ramai seperti kopi cappucino, moccacino, americano, dan lain-lain adalah istilah cara pembuatan kopi dan penyajian kopi berdasarkan teknik dan bahan campurannya. Espresso adalah cara yang paling lazim digunakan oleh kedai dan gerai kopi di seluruh dunia zaman ini.

Sedangkan yang dimaksud dengan varietas kopi adalah ‘cabang’ dari jenis kopi yang awalnya kopi tersebut di tanam di satu tempat. Kemudian, kopi tersebut dipindahkan, dibudidayakan, dan beradaptasi dengan iklim, suhu, dan kondisi tanah di tempat baru sehingga menciptakan pula cita rasa, bentuk, dan ciri khas baru lainnya. Yaman, tempat di mana kopi arabika dikembangbiakkan dan dikenal sebagai bagian kultur, merupakan single origin dari kopi arabika.

Kopi arabika sangat terkenal di Yaman baik di kalangan rakyat maupun bangsawan pada abad 1800-an. Saking terkenalnya, bangsa eropa sampai ketagihan. Dari negara Inggris hingga Belanda, semuanya berlomba memperdagangkan kopi arabika. Belanda lalu menjadi contoh negara eropa yang mengembangbiakkan kopi arabika di negara jajahannya, yaitu Indonesia.

Varietas Kopi Arabika yang Populer

Kopi Arabika Bourbon

Kopi Arabika Bourbon

Varietas kopi arabika dari Indonesia yang paling umum adalah varietas kopi arabika Bourbon. Harum yang dihasilkan biji kopi varietas arabika Bourbon membuat varietas ini sangat disukai. Warna buahnya pun khas, berwarna merah seperti buah ceri. Di antara sub-varietas Bourbon, ada dua sub-varietas yang merupakan hasil dari mutasi alami, yaitu Yellow Bourbon dan Orange Bourbon. Saat ini Yellow Bourbon mayoritas diproduksi dari Brazil. Sub-varietas lainnya adalah Red Bourbon, Caturra, dan Pacas. Masing-masing merupakan sub-varietas mutasi alami dari Bourbon. Ada pula sub-varietas yang merupakan hibrida ilmiah, yaitu penyilangan yang dilakukan secara ilmiah. Sub-varietas dari varietas kopi arabika Bourbon tersebut contohnya Mundo Novo, yang merupakan hasil persilangan antara Bourbon dan varietas arabika Typica.

Kopi Kartika

Buah Kopi Kartika

Menurut Pusat Litbang Pertanian dan Perkebunan Indonesia, varietas kopi arabika yang saat ini dikenal dan dikembangkan di Indonesia yaitu kopi arabika varietas Kartika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3.  Perbedaan antara varietas kopi arabika Kartika 1 dan Kartika 2 terletak pada bentuk percabangan tanaman. Percabangan varietas kopi arabika Kartika 1 berbentuk agak lentur, memiliki ruas pendek, dan memiliki pembentukan cabang sekunder aktif. Jumlah cabang primer produktif dari varietask kopi arabika Kartika 1 dapat mencapai 30 cabang, 10 dompol/cabang 12 buah per dompol. Daunnya berbentuk oval, ujung meruncing. Helaian daun tebal dan kaku dengan tepi daun daun bergelombang tegas.

Sedangkan varietas kopi arabika Kartika 2 memiliki ruas pendek, dan memiliki pembentukan cabang sekunder aktif. Jumlah cabang primer produktif dapat mencapai 29 cabang, 10 dompol/cabang, 11 buah per dompol. Daunnya berbentuk oval agak memanjang, ujung membulat, ukuran daun tidak seragam. Helaian daun dari varietas kopi arabika Kartika 2 dapat terasa tebal dan kaku di pemukaan tangan. Sedangkan ketika batang tumbuhan varietas kopi arabika Abesinia 3 mulai berbuah, jumlah buah per ruas nya dapat mencapai 3-15 buah, dan 7-12 dompol per cabang. Bentuk buah biasanya berwarna hijau, ujung buah tumpul, dan diskus rata. Buah tumbuhan varietas kopi arabika Abesinia 3 yang telah masak berwarna merah cerah.

Ciri lain yang harus diperhatikan dari varietas kopi arabika adalah ketahanan terhadap penyakit tumbuhan daun kopi. Kopi arabika dikenal sebagai kopi yang rentan terhadap penyakit karat daun pada tahun 1890-an. Ini menjadikan komoditas kopi arabika harus ditangani secara khusus dan hati-hati.

Ketahanan Varietas Kopi Kartika

Menurut Pusat Litbang Pertanian dan Perkebunan Indonesia pula, kopi Arabika memiliki ukuran toleransi atau kerentanan terhadap penyakit tumbuhan kopi yang dipengaruhi oleh ketinggian tempat ditanamnya kopi tersebut. Sebagai contoh, ketahanan varietas kopi arabika Kartika 1 dan Kartika 2 terhadap penyakit karat daun adalah AT (agak tahan) ketika ditanam pada ketinggian >1000m di atas permukaan laut (dpl). Namun varietas kopi arabika Kartikan 1 dan Kartika 2 sangat rentan terhadap parasit Nematoda R. Similis, terutama pada ketinggian kurang dari 900 m dpl. Dibandingkan dengan varietas kopi arabika Kartika 1 dan Kartika 2, varietas kopi arabika Abesinia 3 lebih rentan terhadap penyakit karat daun, namun terhadap parasit Nematoda R. Similis justru agak memiliki toleransi.

Ketahanan varietas kopi arabika terhadapa kondisi lahan marginal pun berbeda-beda. Begitu pula dengan daerah yang cocok untuk varietas arabika untuk bertahan hidup. Perbedaan yang terdapat dari masing-masing varietas kopi arabika ini dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan lokasi di mana varietas kopi arabika akan ditanam. Karena ditanam pada tanah yang tinggi, varietas kopi arabika Karitika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3 punya citarasa kopi yang baik. Bentuk biji kopi nya pun masih berbentuk seperti origin nya. Bulat dan agak lembek. Berat tiap 100 buah biji kopi varietas arabika Kartika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3 mencapai 15 gram jika ditimbang. Hal itu membuat biji kopi varietas arabika Kartika 1, Kartika 2, dan Abesinia 3 dijual di pasaran tiap 15 gram.

Ada pula varietas kopi arabika yang dapat ditanam pada tanah yang sedikit lebih rendah dari varietas kopi arabika Kartika 1, arabika Kartika 2, dan arabika Abesinia 3. Varietas tersebut adalah varietas arabika S 795 dan USDA 762. Kedua varietas arabika tersebut juga ditanam dan dikembangbiakkan di Indonesia. Ukuran biji varietas kopi arabika S 795 agak lebih kecil dibanding varietas lainnya. Namun berat per 100 biji justru lebih berat dari varietas kopi arabika lainnya, yaitu dengan 16,4 gram per 100 biji. Begitu pula dengan varietas arabika USDA 762.

Kopi Arabika Typica

varietas buah kopi
Jenis Jenis Buah Kopi

Sedangkan di dunia, ada varietas kopi arabika lainnya yang mungkin tidak dapat ditemukan di Indonesia. Misalnya, varietas kopi arabika Typica. Varietas kopi arabika Typica merupakan varietas kopi arabika tertua di dunia, karena berasal pula dari Yaman, tempat di mana kopi arabika sangat terkenal sehingga dunia pun mulai mengenal kopi melalui negri Yaman. Namun lantaran penyakit karat daun, yang tersisa hanyalah sub-varietas nya saja. Di Indonesia, terdapat sub-varietas kopi arabika Typica bernama Typica Jawa atau Sidikalang.

Sub-varietas Sidikalang adalah varietas yang dikenal di tanam di Indonesia pada masa penjajahan. Sub-varietas ini adalah yang disebut-sebut sebagai ‘Java’. dalam kalimat ‘Have a cup of Java’  yang kalaitu populer di kalangan kolonial Inggris dan Belanda. Begitu pula dengan kopi Priangan (Java Preanger). Pada zaman Belanda masih menduduki Indonesia, Priangan adalah lokasi “primadona” penanaman kopi di Indonesia. Karena cita rasa nya yang khas meskipun merupakan varietas dan sub-varietas kopi arabika, kopi Sidikalang dan kopi Priangan menjadi favorit hingga nama pulau jawa disematkan dalam istilah kopi itu sendiri. Sub-varietas lain  dari varietas kopi arabika tersebar pula di berbagai negara seperti Brazil, Meksiko, San Ramo, Kosta Rika, Jamaika, hingga Papua Nugini. Varietas-varietas kopi arabika tersebut bernama San Ramon,  Pluma Hidalgo, Villa Lobos, dan Blue Mountain.

Kopi Geisha

varian kopi geisha
Panama Geisha

Varietas kopi arabika Geisha juga merupakan varietas kopi arabika. Uniknya, Geisha berasal dari nama suatu desa bernama Gesha di Ethiopia, negara tempat di mana kopi arabika pertama kali ditemukan. Namun hari ini kopi Geisha lebih dikenal sebagai kopi Panama karena produksinya paling banyak berasal dari sana. Ciri varietas kopi arabika Geisha atau Panama memiliki ciri-ciri yang hampir mirip dengan varietas kopi Bourbon, yaitu buahnya berwarna merah seperti buah ceri. Akan tetapi, biji varietas arabika Panama mempunyai aroma khas yaitu aroma seperti bunga melati. Selain itu, tingkat keasamannya lebih rendah dibanding varietas kopi arabika lainnya.

Kopi Ethiopia Heirloom

Kopi Ethiopia Heirloom
Ethiopian Coffee

Ethiopia Heirloom juga merupakan varietas kopi arabika yang berasal dari Ethiopia. Varietas yang satu ini memiliki harga lumayan mahal karena merupakan sub-varietas hasil mutasi alami arabika Bourbon yang tumbuh di hutan pedalaman barat daya di negri Ethiopia. Kopi ini tidak lantas tumbuh di perkebunan, melainkan tumbuh secara liar (wildflower). Oleh karena itu, tiap desa di daerah tersebut memiliki gudang atau tempat hasil menyimpan panen kopi varietas arabika Ethiopia Heirloom.

Varietas Kopi Robusta

Kopi arabika tentu adalah kopi populer di dunia. Namun robusta masih menjadi ‘raja komersial’ dari sekian banyak jenis dan varietas kopi di dunia. Robusta tidak hanya dijadikan sebagai bahan kopi, melainkan tidak jarang juga dijadikan produk lain seperti parfum, pengharum ruangan, bahkan bahan produk kecantikan seperti lulur, masker, dan lain-lain.  Berbeda dengan arabika,  kopi robusta hanya punya 2 varietas utama, sisanya adalah sub-varietas. Karena kopi robusta lebih dikenal sebagai biji kopi yang paling imun terhadap penyakit dan parasit tanaman kopi. Kedua varietas utama kopi robusta adalah Erecta dan Nganda.

Kopi Erecta

Sama seperti varietas kopi arabika Ethiopia Heirloom, varietas kopi robusta Erecta juga merupakan varietas yang ditemukan di hutan pedalaman Ethiopia. Kopi robusta dikenal memiliki kadar kafein lebih banyak dari kopi arabika (2,7%, dibanding kopi arabika uang mengandung 1,5% kafein di setiap satu biji kopi) sehingga dapat bertahan hidup di lingkungan dengan cuaca lebih panas dan di dataran rendah.

Robusta lebih dipilih sebagai “representasi kopi” pada iklan komersial karena kandungan pyrazine yang menimbulkan aroma seperti tanah dan kacang-kacangan yang kuat, cangkang biji yang teksturnya lebih kuat dan kasar, hingga rasanya yang lebih pahit. Pada kedai-kedai kopi yang target pasarnya masyarakat menengah, satu shot espresso seringkali mencampur antara kopi arabika dan kopi robusta sebanyak 10-15% guna menekan biaya produksi.

Kopi Robusta Nganda

Varietas kopi robusta Nganda, adalah varietas yang akarnya tersebar. Kopi Erecta atau yang biasa disebut dengan Robusta saja adalah yang paling lumrah digunakan. Varietas lainnya adalah varietas turunan maupun varietas hibrida/persilangan dengan varietas maupun sub-varietas kopi arabika.

Kopi Timor

Timor merupakan hibrida dari varietas kopi robusta yang paling populer. Varietas ini dikawinkan silang pada pulau Timor. Dari hibrida Timor ini, dikembangkan sub-varietas atau turunan lainnya. Contoh paling populer adalah sub-varietas Catimor, persilangan antara varietas kopi arabika Caturra dan varietas hibrida kopi robusta Timor. Biji kopi Catimor besar dan permukaanya kasar seperti robusta, namun tanamannya cenderung kecil. Itu karena hibridasi dari turunan varietas kopi arabika. Ada lagi varietas yang harumnya menyerupai kopi arabika, namun bentuknya kecil seperti varietas kopi robusta Timor, yaitu Sigarar Utang. Varietas ini merupakan persilangan antara Bourbon dan Timor.  Di Indonesia, varietas kopi Sigarar Utang banyak ditanam di Tapanulis, Sumatra Utara, dengan ketinggian 700-1700 dpl.

Kopi Liberika

Arabika, Liberika dan Robusta
Kopi Arabica Liberika Dan Robusto

Kopi Meranti

Buat kopi liberika, Kopi Rangsang Meranti atau yang biasa disebut dengan kopi Meranti adalah varietas kopi liberika yang tak kalah ngetop dengan varietas kopi liberika lainnya. Varietas kopi liberika Meranti memiliki ciri warna kuning kehijauan, namun setelah di-roast, biji akan berubah menjadi warna coklat pekat layaknya biji kopi robusta. Disebabkan oleh baunya yang menyengat seperti nangka, biji kopi liberika banyak disilangkan dengan varietas kopi arabika.

Kopi Kapeng Barako

Pada awal 2010-an hingga saat ini, Vietnam dan Filipina masih menjadi produsen kopi liberika terbesar di dunia, walaupun Indonesia diberi pasokan kopi liberika sebagai pengganti kopi arabika yang rusak akibat penyakit karat daun pada tahun 1890-an. Daerah Batangas dan dan provinsi Cavite yang terletak pada pulau Luzon adalah lokasi terbesar pengembangbiakkan varietas kopi liberika di Filipina. Varietas kopi liberika yang dikembangbiakkan di povinsi Cavite paling banyak adalah varietas kopi liberika Kapeng Barako. Barako berasal dari bahasa Spanyol cafe verraco yang artinya “banteng pejantan” (Barako dalam bahasa filipina juga memiliki arti yang sama dengan Verraco, yaitu banteng pejantan). Ini dikarenakan cita rasa nya yang tidak terlalu asam atau pahit seperti kopi arabika atau robusta, namun tetap memiliki efek kafein yang kuat. Aroma varietas kopi arabika Barako mirip seperti aroma daun tanaman biji adas manis (Pimpinella Anisum).

Varietas Kopi Indonesia

Bagaimana dengan jenis-jenis varietas kopi lainnya di dunia? Jangankan di dunia, di Indonesia sendiri begitu banyak varietas kopi yang menghasilkan cia rasa khas dari tiap daerah di mana varietas kopi tersebut di tanam. Varietas kopi arabika Java Ijen Raung, misalnya. Varietas kopi arabika yang dibilang “elegan” ini berhasil menghasilkan 858,91 ton biji kopi untuk di ekspor pada tahun 2016. Biji kopi Java Ijen Raung memiliki aroma bunga hutan, tetapi rasanya asam seperti asam jawa.

Adapun kopi luwak, varietas kopi yang disebut-sebut sebagai varietas yang cukup langka dan mahal, diproduksi di Indonesia karena hewan luwak umumnya berada di Indonesia, terutama Sumatra. Kopi luwak dapat menjadi berwarna putih karena kopi tersebut berasal dari fermentasi digestif hewan luwak. Cara memproduksinya adalah membiarkan luwak menelan buah tanaman kopi, kemudian biji kopi yang berada pada feses luwak dikumpulkan, dibersihkan, dan baru dijual ke pasaran. Biji kopi yang dimakan hewan luwak bisa apa saja, arabika, robusta, hingga liberika. Itulah mengapa varietas kopi luwak menjadi varietas kopi yang mahal.

Dari sekian banyak ciri khas dari varietas dan sub-varietask kopi arabika, kopi liberika, dan kopi robusta, yang menjadikan secangkir kopi berbeda dengan kopi lainnya adalah cita rasa. Rasa kopi arabika, baik yang ditanam di tanah asalnya yaitu Yaman dan Ethiopia, maupun yang ditanam di Indonesia, masih agak sama yaitu asam. Kopi arabika lebih ‘lembut’ ketimbang robusta karena cita rasa kopi arabika menggambarkan kadar kafein di dalamnya. Kopi robusta lebih ‘kuat’ dan lebih mumpuni dalam meningkatkan energi, dan lebih pahit dalam soal cita rasa. Oleh karena itu, kopi robusta cocok dijadikan campuran espresso dan dicampur dengan berbagai tambahan campuran seperti gula, susu, krim, dan lain-lain.[]

Ini dia ‘Juara’ Mesin Kopi untuk Buat Kopi di Rumah saat Mager, Moka Pot

Hujan menyambut Indonesia dengan curah yang deras di awal 2020. Kamu yang ingin minum kopi tiba-tiba berhenti. Rasanya malas untuk keluar. Mau pesan lewat aplikasi, hitungan ongkos kirim membuat kopi jadi lebih mahal. Tiba-tiba kamu melihat iklan moka pot di linimasa instagram kamu.

Sebuah ‘teko’ berbahan stainless steel tersebut menarik perhatianmu. Kamu membayangkan bagaiamana Moka pot tersebut hadir di depanmu, tersimpan rapih di atas meja di dapur. “Ukurannya kok kecil, ya? Apa benar ini buat bikin espresso?” pikirmu. Kamu mulai penasaran bagaimana Moka pot membuat secangkir kopi menggunakan ‘teko’ kecil tersebut.

“Hasilnya apakah akan berbeda dari mesin kopi espresso besar kayak di kafe?” begitu pertanyaan yang sering kamu temukan di forum online pecinta kopi, kan? Nah, sebenarnya tidak begitu. Asal pembuatannya benar, seduhan kopi dari Moka pot tidak kalah enaknya dari yang disajikan di kedai kopi alias kafe.

Asal-Usul Moka Pot

Namun sebenarnya apa sih, Moka pot itu? Moka pot merupakan perangkat seduh espresso yang berukuran kecil. Seperti teko teh atau termos, Moka pot menggunakan stainless steel untuk merangkap panas di dalamnya. Ada pula Moka pot yang menggunakan listrik sehingga dapat dibawa ke mana saja alias portable. Penggunaannya yang mudah adalah daya tarik utama dari Moka pot. Cukup masukkan bubuk kopi dan air panas, kopi hangat dapat dinikmati tiap hari. Bubuk-bubuk kopi organik atau kopi sachet adalah sahabat nomor satu dari Moka pot. Selain tidak menghabiskan banyak waktu untuk menggiling biji kopi agar halus terlebih dahulu, kamu juga tidak perlu untuk merogoh kocek tambahan untuk membeli penggiling biji kopi itu sendiri.

alfonso-bialetti-membuat-moka-pot

Kalau kamu jalan-jalan ke Italia, kamu akan menemukan bahwa Moka pot adalah hal lumrah bahkan wajib ada di setiap rumah. 9 dari 10 rumah tangga pasti memiliki Moka pot. Moka pot yang juga biasa disebut Stovetop Coffeemaker  ini pertama kali ditemukan di Italia juga oleh Alfonso Bialetti, dibantu oleh Luigi De Ponti untuk desain produknya. Kala itu, masa The Great Depression memaksa rakyat Italia untuk mencari alternatif-alternatif guna menghemat pengeluaran. Maklum, kondisi ekonomi dunia pada tahun 1930-an sedang merosot dan inflasi terjadi di mana-mana. Namun Alfonso tetap ngotot ingin minum kopi tiap hari, walaupun baginya kopi merupakan produk mewah yang tidak bisa ia beli sembarangan. Kafe menyediakan menu kopi, namun harga kopi seduh yang dijual di kafe ikut-ikutan melunjak. Alfonso kemudian memutuskan untuk membuat Moka pot.

Ide membuat Moka pot tidak ia temukan di dapur. Alfonso justru mendapat ide membuat Moka pot ketika ia memperhatikan istrinya yang sedang mencuci menggunakan mesin cuci versi tahun 1930-an; tungku api, ember, dan penutup dengan tabung di atasnya. Ember cucian tersebut dipenuhi air sabun, ditutup rapat, lalu tabungnya akan membuat air tersebut menguap sehingga evaporasi dari kotoran di baju terbawa bersama uap air sabun. Alfonso lalu membayangkan bagaimana jika bubuk kopi berada dalam sebuah alat serupa. Tak lama kemudian, ia mulai membuat prototipe pertama dari Moka pot. Alfonso membuat ruang bawah pada Moka pot untuk menaruh bubuk kopi mendidih yang akan menekan uap ke luar, sehingga menghasilkan ekstraksi kopi di ruang bagian atas. Setelah beberapa percobaan, Alfonso dan Luis membawa Moka pot untuk dikenalkan kepada dunia dan dijual. Desain dan fungsi Moka pot ini unik sehingga diabadikan di berbagai museum seperti museum Coper-Hewitt, National Design Museum, hingga London Science Museum.

Moka Pot Bialetti

Moka pot Bialetti original buatan Alfonso yang awalnya bernama “Moka Express Coffeemaker” ini masih diproduksi hingga sekarang dan memiliki tanda unik berupa gambar karikatur l’omino coi baffi yang artinya “pria kecil berkumis”. Menurut buku Desconstructing Product Design oleh William Lidwell dan Gerry Manacsa, gambar karikatur itu Alfonso pesan dari seorang seniman Itali bernama  Paul Campani pada 1953.  

bialetti-moka-express-coffeemaker

Oleh karena itu, brand atau merk Mokapot Bialetti masih menjadi merk terbaik sekaligus legendaris bagi pecinta kopi yang memilih Moka pot sebagai alat utama sebagai pembuat kopi seduh di rumah. Kini produk Mokapot Moka Express milik merk Bialetti dibuat dari bahan food grade aluminium alloy sehingga tidak perlu khawatir tentang paparan korosi alumunium yang terjadi ketika digunakan untuk menyeduh kopi yang notabene asam dalam jangka waktu lama. Merk Bialetti sendiri memiliki  versi-versi lain dari Moka pot selain Mokapot Moka Express. Contohnya adalah Mokapot Bialetti Brikka, yang dapat memproduksi hasil akhir kopi yang lebih creamy karena menggunakan tutup khusus sehingga menghasilkan teknik paten bernama pressure valve. Pressure valve membuat tekanan udara dan menjebak uap lebih lama ketika seduhan kopi mendidih, sehingga hasil seduhan lebih kental. Namun dibalik kualitas bagus, ada harga yang lumayan mahal. Harga Moka pot Bialetti dapat berkisar antara Rp. 300.000 hingga Rp.1.600.000. Semua itu kembali lagi kepada manufaktur, kualitas, serta keaslian Moka pot Bialetti. Moka pot Bialetti yang asli dan bukan tiruan pastilah memiliki harga yang mahal.

Moka Pot Pedrini

Selain Bialetti, terdapat pula Moka pot merk lain yang tak kalah bagusnya. Moka pot Pedrini merupakan merk moka pot yang juga berasal dari Italia, yang pabriknya didirikan pada 1942. Moka pot Pedrini memilliki kelebihan berupa harga yang lebih murah dengan bahan yang sama, yaitu food grade allumunium alloy. Hanya saja, ukuran moka pot Pedrini relatif lebih kecil dibanding moka pot Bialetti.

moka-pot-merek-pedrini

Mengukur kapasitas moka pot bisa kamu lakukan menggunakan satuan Cup. Cup berarti gelas espresso (30ml-50ml), yang mana perbandingan satuan ini berarti seberapa banyak gelas espresso yang dapat ditampung di dalam moka pot. Jika moka pot GAT Galosa berukuran 6 cup, berarti kapasitasnya berkisar antara 180ml-300ml. Begitu pula dengan moka pot Pedrini. Ukuran moka pot Pedrini rata-rata antara 1 cup hingga 3 cup, sehingga harganya lebih murah.

Menggunakan moka put praktis dan mudah. Itulah kenapa moka pot menjadi mesin kopi unggulan. Ketika kamu menggunakan moka pot, yang kamu butuhkan hanya air dan bubuk kopi. Tujuannya adalah menempatkan dan menyeduh bubuk kopi tersebut di dalam moka pot. Struktur moka pot membuat penyeduh kopi ini juga mudah dibersihkan. Struktur moka pot yang terdiri dari ruang atas (upper chamber) tempat hasil seduhan, ruang tengah di mana ada filter dan ruang bawah (lowe chamber) di mana tempat bubuk kopi dan air ditaruh sebelum diseduh.

Kopi bubuk organik (atau biji kopi organik, tetapi anda harus menggiling biji kopinya dahulu hingga halus) ditempatkan di tabung tepat di bawah saringan. Kemudian masukkan air di ruang bawah, lalu kemudian nyalakan kompor hingga airnya mendidih.

Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menggunakan Moka Pot

Permasalahan yang sering ditemukan pecinta kopi ketika menggunakan moka pot adalah rasa pahit berlebihan dan sensasi terbakar (burnt) di lidah ketika kopi sudah matang. Cara kerja moka pot mirip seperti mesin espresso klasik besar yang terdapat di kafe-kafe. Namun perbedaannya terletak pada proses saat air mendidih mengekstraksi bubuk kopi. Jika mesin kopi espresso memproses ekstraksi dengan merendam (immense), moka pot membuat aliran uap hanya sekali mengalir (flowing) ke atas tabung pressure valve. Hal ini membuat hasil dari tekanan uap itu terasa terbakar di lidah.

Waktu penyeduhan yang kurang tepat untuk ekstraksi dan termodinamika juga dapat menjadi penyebab mengapa produk akhir dari kopi yang dibuat menggunakan moka pot menjadi pahit. Resistansi hidrolik pada ampas kopi dapat memberitahu kamu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk ekstraksi bubuk kopi, berdasarkan tiga faktor berikut:

  1. Jumlah kopi yang digunakan,
  2. Tingkat kehalusan bubuk kopi, dan
  3. Penekanan bubuk kopi (tamping); apakah dibiarkan saja atau ditekan dengan cara memasang sekrup antara ruang atas dan ruang bawah moka pot.

Cara Kerja Moka Pot

Termodinamika ada di dalam hubungan antara tekanan air dan temperatur. Menggunakan rumus, kamu dapat menghitung satuan tekanan yang dihasilkan di dalam mesin moka pot, atm (atmosphere), dengan mengetahui tekanan air dan temperatur. Contohnya, bila titik didih air 100 derajat, maka tekanan yang dihasilkan moka pot adalah 0,5 atm.

Dengan tekanan yang dihasilkan moka pot, maka uap panas akan mengalir searah keluar menuju tabung atas. Proses ini dapat berubah menjadi bencana bila temperatur terlalu tinggi. Banyak contoh kasus di mana moka pot meledak. Itu disebabkan bahan moka pot tidak dapat menahan temperatur tinggi dan tekanan yang dihasilkan dari tamping. Semakin halus bubuk kopi, maka semakin harus dipadatkan dengan cara tamping tersebut. Bila tekanan mencapai 9 atm, maka suhu yang diperlukan untuk ekstraksi harus mencapai 180 derajat. Moka pot tidak akan bisa menahan suhu setinggi itu. Maksimal suhu moka pot adalah 110 derajat, itupun akan membuat beberapa bagian moka pot menjadi tidak stabil dan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Bahkan, beberapa moka pot dapat rusak.

Oleh karena itu, sebaiknya gunakan bubuk kopi dari biji kopi yang digiling. Hasil dari gilingan tidak boleh terlalu halus maupun terlalu kasar. Volume dari bubuk kopi yang dituang ke dalam moka pot juga jangan terlalu penuh agar kamu tidak memerlukan tamping. Sebab, jika kopi yang dituang terlalu banyak, maka akan ada partikel yang tidak larut ketika proses ekstraksi. Partikel yang tidak larut itulah yang menyebabkan rasa asam. Masih penasaran bagaimana cara menggunakan moka pot untuk membuat kopi ekspresso, simak video berikut:

Cara Membersihkan Moka Pot

Dalam membersihkan moka pot juga ada cara tertentu, terutama mokapot Bialetti. Kamu pernah menyicipi kopi yang beraroma atau berasa seperti sabun? Itu pasti karena pengguna moka pot sebelumnya tidak memperhatikan prosedur pembersihan yang benar. Moka pot Bialetti tidak boleh dibersihkan menggunakan sabun karena aroma sabun akan ikut bercampur bersama kopi pada proses ekstraksi selanjutnya. Selain itu, bagian funnel, gasket, dan filter moka pot Bialetti harus senantiasa ditaruh dalam keadaan miring atau tengkurap, bukannya ke atas. Mengapa harus begitu? supaya residu atau sisa-sisa kopi agar jatuh dari bagian tersebut.

Moka pot merupakan salah satu metode pembuatan kopi di rumah yang tak kalah enak dengan kopi-kopi buatan di kafe. Bagaimana, kamu jadi membeli moka pot atau tidak?[]

Kopi, Indie, dan Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia di Masa Lalu

Meminum kopi berarti mengisi kembali tenaga, mengumpulkan insiprasi, dan melanjutkan pekerjaan. Kata kopi sekarang seringkali dikaitkan dengan tren atau kultur Indie. Padahal, dalam sejarah bangsa Indonesia, kopi telah menjadi amunisi produktifitas bagi seluruh kalangan.

Ingat musisi Banda Neira? Kamu pasti heran mengapa proyek "iseng-iseng" tersebut yang dirintis oleh talenta Rara Sekar dan Ananda Badudu malah berhasil dikenal sebagai musisi indie dengan masterpiece seperti Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. 

Sebenarnya, ada kunci-kunci tersendiri untuk membuat lagu trending dan memukau seperti Banda Neira. Tidak hanya modal talenta, mental yang kuat pun jadi salah satu tahap penting yang harus dilalui oleh musisi indie supaya lagu-lagunya ngga kalah dengan lagu dari label rekaman. Seorang musisi bahkan sampai rela begadang sambil menenggak bergelas-gelas shot ekspresso demi inspirasi yang kuat. Mengapa kopi?

Pertama-tama, mari kita lihat dulu sejarah kopi di Indonesia. Sejarah kopi di Indonesia akan menyingkap bagaimana kopi selalu identik dengan kerja keras. Jika kita putar ulang waktu, ternyata bukan hanya ‘anak’ indie yang mengkonsumsi kopi sebagai peningkat produktifitas. Sejarah kopi di Indonesia memang pahit dan tertulis di atas lembaran hitam kolonialisme. Namun hal itu dapat menjadi penjelasan mengapa kopi selalu dikaitkan dengan kerja keras.

Pemerintah hingga jajaran kolonial Belanda pun 'kecanduan' kopi. Hasil eksploitasi Belanda yang di tanam di Indonesia menghasilkan untung besar. Permintaan akan biji kopi dan rempah lainnya sangat banyak, terutama dari negara-negara Eropa. Mengapa itu bisa terjadi? Mengapa kopi sangat digemari, bahkan dari jaman penjajahan?

Sejarah Kopi Di Indonesia

Jawabannya lagi-lagi ada pada ketika anda memutar kembali jarum jam ke masa lampau dan menelusuri jejak sejarah kopi di Indonesia. Kala itu tanah-tanah di Eropa bukanlah tanah yang tepat untuk menanam rempah. Para pelaut dan penjelajah benua berlomba-lomba mencari tanah baru agar bangsa Eropa jaya dalam bidang pasar rempah. Ketika kolonial eropa pertama kali muncul di Indonesia.

Kopi sudah dikenal dari jaman para intelektual Islam mulai berjaya. Kopi dahulu biasa disebut dengan kata dari bahasa Arab qahwa. Raja-raja Yaman sangat menikmati kopi sebagai sajian waktu luang, sampai sebagai sajian kepada para tamu penting kerajaan. Kopi dikenal secara global karena tamu-tamu kerjaan Yaman pasti disuguhi kopi. Kopi kemudian dibawa dari daerah Yaman, Turki, hingga pada akhirnya bangsa Eropa mengenal apa itu kopi. Penyebaran kopi di dunia pun berkat perdagangan internasional Turki dan Yaman. Serikat dagang Eropa yang dibuat oleh Belanda bernama Vereenigde Ooostindische Compagnie atau V.O.C mulai berdiri tahun 1616 dan membeli kopi stek dari pedagang Yaman. V.O.C dan pemasok kopi Yaman bertransaksi di pelabuhan Mokha.

Budidaya Kultur Kopi Pertama Di Indonesia

Kemudian sejarah kopi di Indonesia dimulai saat delegasi V.O.C berkebangsaan Belanda membawa pohon kopi dari Malabar, India, mengarungi lautan hingga sampai di pulau Jawa. Sejarah tersebut terjadi pada tahun 1696. Mereka kemudian menanam pohon tersebut di sebuah area tanah partikelir dekat timur Jatinegara, Batavia. Kebun tersebut di daerah Kedaung, yang kemudian dikenal sebagai wilayah bernama Pondok Kopi.

Gubernur Jenderal kolonial Belanda

Penanaman tersebut dimulai dari kisah Gubernur Jenderal kolonial Belanda bernama Joan Van Hoorn menerima kiriman kopi dari mertuanya yang berada di Malabar, India. Gubernur Jenderal Van Hoorn pun segera bergegas memulai proyek penanaman kopi di Batavia dan Cirebon. Proyek itu membawa hasil memuaskan. Oleh karena itu, V.O.C dan Belanda berharap dapat membudidayakan kopi di Indonesia. Kopi menjadi komoditas yang diprioritaskan Belanda karena Belanda gencar memperoleh devisa negara. Hutang Belanda pada Perang Dunia I harus segera di bayar, Namun harapan Belanda untuk membudidayakan kopi di Kedaung harus kandas karena perkebunan tersebut rusak akibat gempa dan banjir.

Belanda tidak berhenti begitu saja. Mereka tetap ingin kopi tumbuh di tanah subur Indonesia. Jika Belanda menyerah pada saat itu, maka sejarah kopi di Indonesia tidak akan berlanjut dan kita tidak akan pernah menikmati lezatnya kopi yang kini kita sering minum untuk menghangatkan tubuh pada saat musim hujan. Walaupun sejarah kopi di Indonesia kental akan kolonialisme, namun sejarah tetaplah sejarah. Musisi indie pun tidak akan mungkin menenggak kopi sebagai asupan produktifitas jika sejarah kopi di Indonesia tidak berlanjut tatkala Belanda baru saja akan memulainya.

Belanda mulai lagi menanam pohon kopi 3 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1699. Belanda mengirim stek kopi lagi  dari Malabar. Komandan Adrian Van Ommen diperintah oleh walikota Amsterdam untuk membuka lahan kopi kembali di Kedaung. Kali ini, percobaan Belanda berhasil. Pohon kopi menghasilkan biji-biji kopi berkualitas. Bangsa Indonesia menderita karena Belanda berhasil menemukan cara baru kembali supaya Belanda meraup keuntungan untuk membayar hutang. Di samping itu, di dalam badan organisasi V.O.C, muncul berbagai ketamakan seperti korupsi sehingga mengakibatkan masalah finansial baru bagi Belanda.

Belanda lantas mengirim beberapa sampel kopi ke Kebun Raya Amsterdam pada 1706 untuk diteliti. Berkat sukses nya penelitian di Kebun Raya Amsterdam, Belanda menemukan cara agar kopi dapat panen subur di Indonesia. Budidaya kopi besar-besaran dimulai dari dataran tinggi Priangan, yaitu daerah sebelah barat Cianjur hingga sebelah timur Ciamis. Area budidaya kopi diperluas hingga mencapai Bali, Sumatera, Timor, dan area-area lainnya di Indonesia.

Jenis kopi Arabika yang diimpor dari kerajaan-kerajaan perdagangan negara Arab seperti Yaman dan Turki adalah jenis kopi yang ditanam sebelumnya. Belanda menemukan kalau ternyata kopi Arabika tidak terlalu imun terhadap penyakit dan hama. Oleh karena itu, Belanda kemudian memilih jenis kopi liberika untuk ditanam selanjutnya.

Mulai tahun 1711, kopi diekspor dari Jawa ke negara-negara Eropa. Permintaan kopi makin tinggi, dan itu berarti produksi kopi harus tinggi pula. Rakyat Indonesia makin susah karena tidak lagi di bawah pengawasan V.O.C, tetapi langsung diawasi oleh kolonial Belanda. V.O.C dibubarkan pada tahun 1799 karena sudah terlalu banyak hutang yang ditinggalkan oleh serikat dagang tersebut.

The Legend of Java Preanger

kopi-malabar

Pada 1752, negara-negara Eropa mengenal Indonesia sebagai lokasi utama penghasil kopi bagi Belanda. Nama pulau Jawa begitu melekat dengan identitas kopi, sampai-sampai para bangsawan Eropa sering mengganti kata coffee dengan java. “Have a cup of Java” adalah istilah populer di Eropa tatkala mereka ingin menikmati secangkir kopi produksi tanah Priangan. Padahal, mereka tidak tahu kalau bangsa Indonesia lah yang memproduksi kopi tersebut, bukan bangsa Belanda sendiri. Oleh sebab itu, kini dikenal jenis kopi lokal khas Indonesia bernama Kopi Priangan atau Java Preanger.

Kembali ke sejarah kopi di Indonesia. Tahun 1802 pemerintah kolonial Belanda menetapkan peraturan bahwa setiap keluarga, terutama di daerah Cirebon, wajib menanam sebanyak 500 pohon kopi.  Produksi kopi meningkat tajam pada tahun 1810. Kerja paksa untuk menanam rempah-rempah termasuk biji kopi, atau yang disebut Tanam Paksa (Cultuurstelsel), pun menjadi metode baru bagi Belanda untuk memeras habis-habisan tenaga kerja di Indonesia dengan bayaran sekecil mungkin.

Pada tahun 1878, lagi-lagi Belanda menemui kegagalan produksi kopi. hampir semua perkebunan kopi di dataran rendah di Indonesia rusak akibat penyakit Hemileia Vastatrix (HV) atau yang biasa disebut dengan penyakit karat daun. Penyakit tanaman tersebut membuat produksi kopi harus berhenti lantara produk yang dihasilkan tidak layak dikonsumsi. Selain itu, Belanda mulai mendapat kritik dunia akibat ekspolitasi tenaga kerja yang tidak manusiawi.

Sampai pada tahun 1907, Belanda menemui lagi kegagalan produksi kopi. Sama persis dengan apa yang terjadi pada budidaya kopi Arabika, kopi liberika rusak pula akibat penyakit yang sama. Penyakit karat daun rupanya menjadi masalah besar dan berlanjut bagi Belanda. Produksi kopi liberika akhirnya dihentikan. Kopi robusta (Coffea canephora) lalu ditanam sebagai ganti kopi liberika. Di titik ini, bangsa Indonesia telah mengenal 3 jenis kopi yang paling digemari sepanjang sejarah.

Belanda kemudian memperluas budidaya kopi robusta ke dataran tinggi di Indonesia. Usaha itu berhasil, meski yang paling bertahan tetap adalah kebun-kebun kopi yang berasal dari dataran rendah. Kopi robusta mendapat kesempatan untuk di distribusi ke eropa dalam beberapa waktu sebelum akhirnya Perang Dunia II berakhir tatkala sekutu memenangkan pertarungan atas Jepang yang ditandai dengan jatuhnya bom di kota Hiroshima pada tahun 1945.

Saat itu, sejarah penjajahan di Indonesia sedang berhenti. Indonesia sedang memasuki status quo setelah Jepang datang ke Indonesia dan Belanda menduduki Indonesia selama berabad-abad. Kopi telah banyak menemani perjalanan perjuangan bangsa Indonesia. Jika anda membaca sejarah kopi di Indonesia di berbagai sumber, buku, dan dokumentasi, anda akan selalu menemukan aroma kerja keras bangsa Indonesia. Pada masa ini, jenis kopi paling mahal berasal dari Indonesia, dan Indonesia adalah eksportir utamanya. Jenis kopi apakah itu?

Kopi dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Kembali lagi pada zaman tatkala Indonesia masih berjuang untuk merdeka. Soekarno, bapak kemerdekaan Indonesia, tengah merumuskan teks proklamasi bersama ‘golongan tua’ dan ‘golongan muda’ pada pertengahan tahun 1945, tepatnya pada 16 Agustus 1945. Setelah kekalahan Jepang terhadap sekutu Amerika, Jepang seperti ‘menghilang’ dari tanah jajahannya. Hal itu dimanfaatkan oleh bangsa Indoensia untuk memerdekakan diri. Setelah peristiwa rengasdengklok, para tokoh dari ‘golongan muda’ mendesak Ir. Soekarno untuk segera mendeklarasi kemerdekaan Indonesia.

Namun setiap pagi sebelum bekerja sebagai pemimpin bangsa yang ingin merdeka, Ir. Soekarno menenggak segelas kopi terlebih dahulu., menurut salah satu ajundan Bung Karno bernama Bambang Widjanarko. Dalam buku karangan Bambang Widjanarko sendiri, Sewindu Dekat Bung Karno, Ir. Soekarno gemar mengkonsumsi kopi jika suatu acara diadakan pada pagi hari, dan air jeruk jika diadakan pada malam hari.  Bung Karno juga bukan sosok sejarah Indonesia yang doyan mabuk dengan alkohol. Alkohol selalu beliau ganti dengan air jeruk.

Jenis kopi kesukaan presiden pertama Republik Indonesia tersebut adalah kopi tubruk. Hal itu diketahui dari istri kedua Bung Karno, Inggit Ganarsih. Inggit selalu menyediakan Bung Karno segelas kopi tubruk hitam pekat lengkap dengan sesendok gula. Rumah Inggit di Ciateul, Bandung menjadi tempat bagi para politisi dan para pemuda nasionalis untuk bekerja keras menuangkan idealisme, pemikiran, dan mimpi akan Indonesia yang merdeka bersama Bung Karno.

Kebiasaan meminum kopi itu terbawa hingga akhirnya Indonesia merdeka. Setelah mengumumkan pernyataan proklamasi pada 17 Agustus 1945, Bung Karno tetap setia dengan kebiasaanya meminum kopi tubruk dan makan roti dengan mentega. Bung Karno pun menghapus jarak besar antara presiden dan jajaran mentri pada kala itu. Dengan mengadakan makan bersama di istana negara, Bung Karno berhasil menjadikan kopi sebagai sajian untuk mempererat tali silaturahmi. Persis seperti yang dilakukan oleh raja-raja Yaman terhadap para tamu mereka.

Kopi tubruk sendiri dibuat menggunakan metode tumbuk (tubruk) dan diseduh bersama ampasnya. Kopi tubruk dikenal pula pada masa kolonial, pada waktu kopi disebut dengan istilah “Java”. Baik kopi tubruk, kopi priangan, dan kopi ekselsa, semuanya dijadikan komoditas utama oleh Belanad, disamping ketiga jenis kopi paling dikenal pada masa kopi itu. Ketiga jenis kopi yang dimaksud adalah kopi arabika, kopi liberika, dan kopi robusta.

Kebun kopi yang semula milik Belanda, terutama pada dataran tinggi Priangan, kemudian diakuisisi oleh Bung Karno setelah Indonesia merdeka (atau yang disebut dengan “nasionalisasi” bekas kolonial Belanda). Kini perkebunan kopi jadi sepenuhnya milik Bangsa Indonesia, dari mengendalikan seluruh produksi hingga ekspor. Salah satu perusahaan produksi kopi swasta terbesar di Indonesia, Coffindo, memiliki lahan seluas 3.412 Hektar. Berkat perjuangan para proklamator, bangsa Indonesia kini tidak lagi memproduksi kopi sebagai budak kolonial, tetapi sebagai produsen.

Kopi terus menemani sejarah bangsa Indonesia. Pada novel yang diangkat dari sejarah berjudul Revolusi dari Secangkir Kopi karangan Didik Fotunadi, dibuktikan bahwa ketika bangsa Indonesia melalui lembaran sejarah yang paling kelam dan paling sulit sekalipun, kopi menjadi saksi bisu dari perjalanan Indonesia. Novel tersebut bercerita tentang pengalaman Didik sebagai mahasiswa pada masa revolusi, dan bagaimana puncak revolusi yang diwarnai dengan aksi protes pada tahun 1998 mengantarkan pemikiran para mahasiswa untuk memperbarui kembali hakikat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Semua itu tetap ditemani secangkir kopi, tatkala Didik dan teman-teman mahasiswa nya membicarakan nasib bangsa yang saat itu tengah goyah.

Jenis-jenis kopi lain seperti kopi aceh, kopi gayo, dan kopi-kopi produksi lokal lain turut pula menghias kisah sejarah Indonesia. Penggemar kopi fanatik tentu tidak perlu lagi khawatir tentang cibiran dari orang-orang yang bukan pecinta kopi. Perjuangan dan kerja keras ada dalam setiap tetes kopi di dalam cangkir Anda. Coba bayangkan ketika anda menghadapi pertanyaan,”Kok suka banget kopi?” Anda tinggal menjawab,”Karena aku butuh kopi untuk kerja keras!” []

Sejarah Kopi Dunia dan Peradaban Manusia

“Kok lu minum kopi terus sih, bro?” Pertanyaan itu pasti kamu temui bila kamu adalah teman yang sering ngajak ‘nongki dan ngopi’. Memang kopi merupakan minuman yang digemari untuk ngumpul-ngumpul, ngobrol, dan menjamu tamu. Semua itu ternyata berawal dari sejarah berabad-abad silam.

Ketika teman menolak untuk diajak ‘nongki dan ngopi’, jangan sedih dulu. Mungkin mereka belum tahu sejarah kopi dunia yang menyimpan sejuta fakta tentang tradisi minum kopi. Sejarah menyebutkan kalau kopi ditemukan pada 1000 SM. Kopi kemudian merupakan salah satu hidangan paling digemari oleh raja-raja Islam, tentara kolonial Eropa, hingga berlanjut ke zaman berikutnya. Budidaya kopi juga tidak berhenti hingga selesai Perang Dunia dua.

Lalu bagaimana dengan jenis-jenis kopi? Mengapa kopi yang tadinya dikenal oleh sejarah dunia sebagai sebuah rempah, kini dikembangkan menjadi beberapa variasi? Bagaimana dengan pembuatan kopi pada masa lampau sehingga aroma dan rasa kopi terjaga?

Asal Mula Minuman Kopi

Semua itu berawal dari daerah Afrika Timur. Catatan sejarah kopi menyebutkan kalau suku Galla dari Afrika Timur adalah suku pertama yang mengenal kopi. Kopi pertama kali di tanam kota Kaffa, yang terletak di Shoa, sebuah daerah di Selatan dari Barat Daya Abissynia, Afrika.   Menurut sejarawan William H. Ukers, kata ‘cofee’ sendiri berasal dari nama kota Kaffa. Namun kemudian pada Simposium Etimologi Kata Kopi (Symposium of The Etymology of The Word Coffee) yang digelar 1909, akhirnya para sejarawan sepakat bahwa ‘coffee’ diambil dari kosa kata bahasa Arab ‘qahwa’.

“Lah kok, katanya kopi berasal dari Afrika Timur.  Kok para sejarawan malah setuju kata kopi diambil dari bahasa Arab?” mungkin Kamu bertanya-tanya demikian. Namun sejarah kopi dunia memang membuktikan kalau bangsa Arab adalah pilar utama dalam penyebaran, distribusi, dan siklus ekspor kopi ke seluruh dunia. Mari simak rangkuman sejarah kopi di dunia guna menemukan alasan mengapa tempat kopi berasal adalah dari negara-negara Arab.

Kopi justru mulai menyebar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia, ketika bangsa Arab ikut mengenal kopi dan menjadikan kopi sebagai komoditas dagang. Jika Kamu membaca buku All About Coffee yang ditulis oleh sejarawan William H. Ukers, Kamu akan menemukan pernyataan Ukers bahwa sejarah kopi di dunia dimulai oleh bangsa Arab walau sejatinya telah ditanam terlebih dahulu di Afrika.

kaldi-pengembala-kambing-penemu-kopi-pertama

Bahkan sebelum dikenal di Arab, distribusi kopi singgah terlebih dulu di Ethiopia. Legenda Tarian Kambing adalah legenda tentang kopi paling terkenal di Ethiopia. Dalam legenda ini diceritakan kalau seorang penggembala kambing bernama Kaldi melihat kambing nya lincah menari-nari setelah makan dari sebuah ‘beri merah’.  Kaldi kemudian mencoba sendiri ‘beri’ tersebut dan memberinya pada seorang biarawan. Biarawan itu juga seketika merasa berenergi setelah mencicipi beri merah itu. Kemudian Kaldi pun memasak buah itu dengan cara memanggang dan menyeduhnya.

Kopi dan raja-raja Yaman terdahulu

Ketika cerita legenda itu merajalela, seorang sufi Yaman bernama Al-Dhabani mengenal biji kopi ketika ia berkunjung ke Ethiopia. Sebelumnya, penduduk Yaman telah meminum daun teh qat yang efeknya sama seperti kopi, yaitu menambah energi dan menjauhkan dari kantuk. Namun daun teh qat terkenal sangat langka dan mahal. Untuk itu, Al-Dhabani membawa kopi ke kampung halamannya. Kopi semakin terkenal tatkala sufi lain yang mempunyai pengaruh kuat pada saat itu, yang bernama Ali bin Umar As-Shadhili, mengimbau masyarakat dan para sufi untuk meminum kopi. Melihat peluang perdagangan, pedagang Yaman pun membawa dan memproduksi kopi ke daerah Mocha, Yaman (bukan Mecca atau kota Mekah yang biasa dikenal sebagai lokasi Ka’bah).

Kopi kemudian disebut-sebut sebagai pengganti daun qat bagi penduduk Yaman. Ilmuwan islam terkemuka bernama Ibnu Sina meneliti kopi dari segi ilmu kedokteran dan kesehatan. Hasil riset Ibnu Sina semakin memperkuat bahwa betul adanya kopi membawa efek energi tambahan bagi manusia. Saat itu pula ajaran Islam sedang menyebar melalui pedagang-pedagang islam. Mereka berdagang kopi sambil turut membawa dakwah Islam. Efeknya? Kopi jadi semakin terkenal di seluruh penjuru jazirah arab.

Di zaman kesultanan Utsmaniyah, tepatnya di Konstatinopel (yang kemudian disebut Istanbul), kedai kopi pertama di dunia dibuka pada tahun 1475. Kamu sebagai pecinta kopi pasti tahu kedai kopi pertama di dunia. Kalau Kamu mengaku sebagai pecinta kopi, jangan sampai tidak tahu kedai yang membuka jalan bagi sejarah kopi dan sejarah berbagai kedai kopi yang dapat kita temui hari ini.

Setelah Konstantinopel jatuh ke tangan kekuasaan Turki Utsmaniyah pada 1435, perlahan peradaban Romawi bergeser dengan peradaban dan kultur bangsa Arab. Kopi yang merupakan komoditas khas bangsa Arab pada kala itu mulai tercium semerbaknya di sudut-sudut kota Istanbul. Semua itu dimulai dari sebuah kedai kopi.

Kedai kopi tersebut dikenal dengan nama kedai KivaHan. Kedai KivaHan tersebut turun dari generasi ke generasi, dan kini masih ada. Pada masa Konstatinopel masih berdiri, kopi menjadi suatu santapan penting yang mengakar pada tradisi. Di kerajaan Turki kuno tersebut kopi sangat kental bukan hanya dengan krimer, tapi juga dengan identitas Turki Utsmaniyah sebagai kerajaan Islam adidaya. Sampai-sampai, undang-undang menyangkut kopi seperti “seorang wanita berhak mengugat cerai suaminya bila sang suami tidak dapat menyajikan secangkir kopi untuk sang istri setiap hari” turut disahkan. Turki menjadi negara kedua berpengaruh setelah Yaman dalam sejarah penyebaran kopi di seluruh dunia.

Penyebaran Kopi pada Zaman Kolonial Eropa

Raja-raja Turki kemudian secara turun-temurun menggunakan kopi sebagai suguhan untuk tamu sebagai pengganti wine. Sebab, wine atau arak hukumnya haram dalam islam. Pedagang-pedagang internasional terarik dengan minuman hitam pekat yang tidak membuat mabuk seperti minuman alkohol, namun  malah membuat mereka berenergi saat membahas kepentingan negara.  Misalnya, Raja Perancis Louis XIV mengenal kopi tatkala duta besar kerajaan Turki membawanya ke Paris.

Di situlah kemudian sejarah kopi dibawa mencapai Eropa. Awal 1600-an, bangsa Eropa berbondong-bondong menjadi negara eksportir rempah dunia. Meskipun awalnya bangsa Eropa menolak karena imam besar agama kristen masa itu, Paus Clement VIII, mengeluarkan fatwa kalau kopi adalah tindak aliran sesat. Namun kemudian fatwa tersebut dicabut. Kopi pun di ekspor dari Turki. Kedai-kedai kopi mulai dibuka di berbagai wilayah kristen seperti Venice di Italia, Oxford, dan London.

Melalui ambisi menjadi negara eksportir rempah, bangsa Eropa mulai meneliti dan mengembangkan pengetahuan akan biji kopi agar mereka tidak perlu lagi impor dari Turki. Setelah Raja Charles II menutup seluruh kedai kopi di kota London, warganegara Belkamu baru mengenal tea house yang menyajikan minuman teh dan kopi. Oleh karena itu, Belkamu memanfaatkan krisis kepercayaan orang terhadap kopi sampai akhir tahun 1777 M. Belkamu memulai penelitian tanaman kopi dan berusaha mengembangkannya di tanah jajahannya, Java (Jawa). Dari sinilah kita mengenal jenis kopi baru bernama kopi Java dan kopi Priangan. Sebab, Belkamu menanam kopi pertama kali di daerah Priangan, Ciamis. Hal ini lah yang akan menjadi awal mula sejarah kopi di Indonesia yang diperkenalkan melalui kolonialisme Belkamu.

Di rentang waktu yang bersamaan, jenis-jenis kopi lain turut diperkenalkan. Misalnya, salah satu bangsawan  Portugis bernama Gabriel du Clieu menanam biji kopi dari Perancis ke negara-pulau Martinik. Maka, dibuatlah jenis kopi Martinik. Di Perancis pula, prototip ekspreso dibuat padat tahun 1822. Sedangkan kopi Arabica ‘dikuasai’ oleh serikat dagang Belkamu (atau V.O.C) dan berkembang pesat di daerah-daerah asia seperti Indonesia, Sri Lanka, dan India. Namun kopi Arabica tidak setangguh kopi Robusta tatkala diserang penyakit tanaman dan hama. Oleh karena itu, Belkamu mengganti kopi Arabica dengan Liberica dan Robusta. Itulah mengapa Indonesia punya berbagai macam jenis biji kopi untuk di produksi. Indonesia telah mengenal bermacam-macam kopi seperti Mocha, Arabica, Liberica, dan Robusta.

Sedangkan di Amerika, kopi kemasan berhasil ditemukan pada 1873 dan Amerika mulai memproduksi kopi kemasan agar kegiatan menyeduh kopi lebih mudah dilakukan. Pembuatan kopi instan menjadikan kedai kopi booming di Amerika, terutama pada 1920-an. Jerman juga memperkenalkan kopi Dekafa. Kopi Dekafa adalah jenis kopi berkadar kafein paling rendah. Guna mempertahankan harga kopi sekaligus memenuhi permintaan rakyat Amerika atas kopi, Amerika membentuk Asosiasi Kopi Nasional pada 1911 dan Federasi Kopi Kolumbia pada 1928.

Bicara tentang kopi instan, Nestle saat ini menjadi produsen kopi instan terbesar di dunia. Sebab, Brazil menemukan kopi instan Caribbean dan Brazil setelah memusnahkan 78 kantong biji kopi untuk menjaga harga komoditas. Meskipun awalnya perdagangan kopi dikuasai oleh Belkamu, Brazil mampu menyeimbangi dengan adanya jenis kopi Caribbean.

Kopi pada zaman Perang Dunia II

Pada 1939-1945 selama perang dunia 2, tentara-tentara Amerika menyelundupkan kopi ke kapal-kapal perang untuk dikonsumsi prajurit. Hal ini menambah popularitas kopi di hati rakyat Amerika.

Walaupun begitu, produksi kopi waktu perang dunia 2 sangat dibatasi oleh Inggris. Sebelumnya, Jerman percaya kalau kopi adalah ‘pendobrak tradisi’ yang mana mengalahkan bir sebagai minuman khas negara Jerman. Inggris lalu percaya bahwa kopi juga ‘menentang’ tradisi minum bir dan perlahan mengganti kedai-kedai kopi dengan kedai bir (tavern) selama tahun 1790. Hingga akhir perang dunia 2 berakhir, Inggris masih membatasi jumlah distribusi kopi.  

Kemudian, terjadilah ‘keajaiban’ bagi para pecinta kopi di Inggris. Inggris kembali membuka pintu bagi kopi untuk mencetak sejarahnya di Inggris setelah mesin Capucino diproduksi massal pada 1946. Kopi jenis Capucino diperkenalkan dengan mencampur cairan kopi dengan susu kukus (steamed milk). Gaggia, pabrik produsen mesin Capucino pertama, menyebutkan kalau warna kopi Capucino terinspirasi dari jubah pendeta Capucin. Oleh karena itu, kopi itu kini disebut kopi Capucino. Pabrik Gaggia juga memproduksi mesin kopi Espresso yang telah dikembangkan oleh Fernando Illy pada 1904. Produksi kedua mesin itu masuk ke Inggris tahun 1948-1952. Akhirnya kedai-kedai kopi dibuka kembali di kota London pada Juli 1952. Tahun 1960 merupakan tahun di mana jumlah kedai kopi di seluruh Inggris raya mencapai 2000 kedai kopi. Tidak hanya itu, Bar dengan menu utama kopi Espresso pertama dibangun di wilayah Soho, Inggris, pada 1953.

Namun memang dari sekian banyak negara, Amerika adalah negara dengan penggemar kopi terbanyak. Kopi di Amerika begitu diminati sampai-sampai Asosiasi Kopi Nasional Amerika menyebutkan kalau tiap warga Amerika minum 2-3 gelas kopi per hari pada tahun 1962.

Amerika juga menjadi negara tempat lahirnya Starbucks, kedai kopi paling bergengsi masa kini. Perjalanan Starbucks sebagai kedai kopi berawal dari Baldwin dan Brown, dua sekawan yang berinisiatif melakukan eksperimen untuk menciptakan variasi kopi baru. Starbucks dibuka pertama kali di Seattle pada awal 1980.

“Tradisi” mencampur resep ala Starbucks dimulai dari seorang karyawan yang memutuskan untuk menggunakan metode menu resep tertulis guna memudahkan konsumen meracik kopi buatan sendiri. Karyawan tersebut bernama Howard Schultz. Nasib Starbucks berubah pada 1985. Setelah idenya ditolah oleh dua sekawan penemu Starbuck, Schultz pun meninggalkan Starbuck dan mendidikan franchise kedai kopinya sendiri, II Giornale.  Kesuksesan II Giornale membuat Schultz kaya raya dan akhirnya membeli Starbucks pada Maret 1987. Schultz mengkombinasikan seluruh metodenya pada Starbucks ‘baru’. Berkat metodenya itu, Starbucks tercatat memiliki 20.000 cabang di seluruh dunia pada 1998.

Kopi sebagai Pembangun Semangat

Aroma yang menimbulkan semangat masih dapat tercium dari seduhan kopi sampai hari ini. Semangat para bangsa Arab, raja-raja Turki, hingga Schultz, dalam memperkenalkan kopi, kini dapat Kamu cicipi melalui seruput di ‘nongki dan ngopi malam minggu kamu. Sejarah kopi dunia telah membuktikan bahwa kopi merupakan sajian penambah semangat yang patut digemari.[]